MALANG — Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Melalui satu aplikasi, seseorang dapat mengetahui aktivitas teman, mengikuti kehidupan figur publik, hingga melihat berbagai pencapaian orang lain dari seluruh dunia. Di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering dirasakan generasi muda, yaitu kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain.
Tanpa disadari, aktivitas yang awalnya hanya bertujuan mencari hiburan dapat berubah menjadi sumber tekanan psikologis. Melihat teman lulus lebih cepat, mendapatkan pekerjaan impian, membangun bisnis, atau memiliki kehidupan yang terlihat sempurna sering membuat seseorang mempertanyakan pencapaiannya sendiri.
Padahal, apa yang terlihat di media sosial tidak selalu mencerminkan kenyataan secara utuh.
Kebiasaan membandingkan diri sebenarnya merupakan hal yang wajar. Manusia secara alami menggunakan lingkungan sekitar sebagai acuan untuk menilai dirinya. Namun, media sosial membuat proses tersebut terjadi dalam skala yang jauh lebih besar.
Jika dahulu seseorang hanya membandingkan dirinya dengan teman sekolah atau lingkungan terdekat, kini ia dapat membandingkan hidupnya dengan ribuan bahkan jutaan orang dalam waktu yang bersamaan.
Akibatnya, muncul perasaan tertinggal ketika melihat orang lain mencapai sesuatu lebih dahulu. Ada yang merasa gagal karena belum lulus tepat waktu, belum memiliki pekerjaan tetap, atau belum mencapai target tertentu yang dianggap sebagai ukuran kesuksesan.
Padahal setiap individu memiliki latar belakang, kesempatan, dan perjalanan hidup yang berbeda.
Salah satu hal yang sering dilupakan adalah media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kebanyakan orang cenderung membagikan momen terbaik mereka, bukan kesulitan yang sedang dihadapi.
Foto kelulusan diunggah ke media sosial, tetapi proses panjang dan tekanan yang dialami selama kuliah jarang diperlihatkan.
Keberhasilan dalam karier dibagikan kepada publik, tetapi kegagalan dan penolakan yang pernah dialami sering kali tidak terlihat.
Akibatnya, seseorang hanya melihat hasil akhir tanpa mengetahui perjuangan di baliknya.
Persepsi inilah yang membuat banyak orang merasa hidupnya kurang menarik dibanding kehidupan orang lain.
Membandingkan diri secara berlebihan dapat memengaruhi kesehatan mental seseorang. Perasaan tidak cukup baik, rendah diri, kehilangan motivasi, hingga kecemasan sering muncul ketika individu terus-menerus merasa tertinggal.
Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan mulai mengukur nilai dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Ia merasa berhasil hanya ketika mampu menyamai atau melampaui apa yang dimiliki orang lain.
Pola pikir semacam ini berbahaya karena kebahagiaan menjadi bergantung pada faktor yang tidak dapat dikendalikan. Selalu akan ada orang yang lebih sukses, lebih kaya, atau lebih berprestasi.
Jika hidup terus dijalani dengan standar tersebut, rasa puas akan semakin sulit ditemukan.
Salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif dari perbandingan sosial adalah dengan mengubah fokus dari orang lain kepada diri sendiri.
Alih-alih bertanya mengapa orang lain lebih maju, seseorang dapat mulai melihat perkembangan yang telah dicapai dalam hidupnya sendiri. Kemajuan tidak selalu harus berupa pencapaian besar. Terkadang, keberhasilan hadir dalam bentuk yang sederhana, seperti berhasil melewati masa sulit, menyelesaikan tugas yang menumpuk, atau menjadi pribadi yang lebih baik dibanding tahun sebelumnya.
Menghargai proses diri sendiri membantu seseorang membangun rasa percaya diri yang lebih sehat.
Ketika fokus berpindah pada pertumbuhan pribadi, tekanan untuk mengikuti standar kehidupan orang lain akan berkurang.
Media sosial bukanlah sesuatu yang harus dihindari sepenuhnya. Platform tersebut tetap memiliki banyak manfaat, mulai dari akses informasi hingga peluang membangun relasi.
Yang perlu diperhatikan adalah cara menggunakannya. Membatasi waktu penggunaan, memilih konten yang lebih positif, dan menyadari bahwa tidak semua yang terlihat di internet mencerminkan kenyataan dapat membantu menjaga kesehatan mental.
Selain itu, penting untuk mengingat bahwa setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tidak ada aturan yang mewajibkan semua orang mencapai tujuan hidup pada usia atau tahap yang sama.
Pada akhirnya, kehidupan bukanlah kompetisi yang harus dimenangkan lebih cepat dari orang lain. Setiap individu memiliki cerita, tantangan, dan jalan yang berbeda.
Apa yang terlihat sebagai keberhasilan hari ini mungkin lahir dari perjuangan panjang yang tidak diketahui banyak orang. Begitu pula dengan kegagalan yang sedang dialami seseorang saat ini, bukan berarti ia tidak akan berhasil di masa depan.
Di tengah derasnya arus informasi dan pencapaian yang terus berseliweran di media sosial, penting untuk mengingat bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa jauh seseorang dibandingkan orang lain.
Karena hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan tentang bagaimana seseorang terus bertumbuh dan menemukan makna dalam perjalanan yang sedang dijalaninya.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.