Art Therapy - Story Telling

Ketika Takut Tertinggal Menjadi Sumber Kecemasan

Halo Sobat Antares!

Di Era Digital, Banyak Orang Merasa Harus Selalu Mengikuti Segalanya Agar Tidak Ketinggalan

MALANG — Pernah merasa gelisah ketika melihat teman sedang berkumpul tanpa mengajak kita? Atau merasa tertinggal saat melihat orang lain mengikuti tren, menghadiri acara tertentu, atau mencapai sesuatu yang belum berhasil kita raih? Perasaan tersebut dikenal dengan istilah Fear of Missing Out atau FOMO.

 

FOMO merupakan kondisi ketika seseorang merasa takut tertinggal pengalaman, informasi, atau kesempatan yang sedang dimiliki orang lain. Fenomena ini semakin sering terjadi seiring berkembangnya media sosial yang memungkinkan setiap orang melihat aktivitas orang lain secara real-time.

 

Meskipun terlihat sederhana, FOMO dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kesehatan mental jika tidak dikelola dengan baik.

Media Sosial dan Perasaan Tertinggal

Dahulu, seseorang hanya mengetahui aktivitas teman-temannya ketika bertemu secara langsung. Namun kini, hampir setiap kegiatan dapat dibagikan melalui media sosial dalam hitungan detik.

 

Mulai dari liburan, pencapaian akademik, konser, acara komunitas, hingga kehidupan sehari-hari dapat dengan mudah terlihat oleh banyak orang. Akibatnya, seseorang sering merasa bahwa orang lain selalu menjalani hidup yang lebih menarik dibanding dirinya.

 

Ketika melihat berbagai unggahan tersebut, muncul perasaan bahwa ada sesuatu yang sedang terlewatkan. Perasaan inilah yang menjadi inti dari FOMO.

 

Masalahnya, media sosial hanya menampilkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Apa yang terlihat sering kali merupakan momen terbaik yang dipilih untuk dibagikan, bukan gambaran utuh mengenai kehidupan mereka.

 

Selalu Ingin Mengikuti Segalanya

FOMO membuat seseorang merasa perlu terus mengikuti perkembangan terbaru. Mereka takut kehilangan informasi, tren, atau pengalaman yang sedang ramai dibicarakan.

 

Akibatnya, banyak orang menjadi sulit melepaskan diri dari ponsel. Mereka terus memeriksa notifikasi, membuka media sosial berulang kali, dan merasa tidak nyaman ketika tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

 

Dalam jangka panjang, kebiasaan ini dapat menyebabkan kelelahan mental. Pikiran terus bekerja untuk mengikuti berbagai hal sekaligus, sementara waktu untuk beristirahat dan fokus pada kebutuhan diri sendiri semakin berkurang.

 

Tidak jarang seseorang merasa sibuk sepanjang hari, tetapi tetap merasa tidak puas dengan apa yang telah dilakukan.

Dampak terhadap Kesehatan Mental

Perasaan tertinggal yang terus-menerus dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. FOMO sering dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan, stres, dan rasa tidak puas terhadap kehidupan pribadi.

 

Ketika seseorang terlalu fokus pada apa yang dimiliki orang lain, ia cenderung mengabaikan hal-hal positif yang sebenarnya sudah ada dalam hidupnya. Akibatnya, rasa syukur berkurang dan kebahagiaan menjadi sulit dirasakan.

 

Selain itu, FOMO juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengambil keputusan. Banyak orang mengikuti tren atau kegiatan tertentu bukan karena benar-benar menginginkannya, tetapi karena takut dianggap tertinggal oleh lingkungan sekitar.

 

 

Belajar Menerima Bahwa Tidak Semua Hal Harus Diikuti

Salah satu cara untuk mengurangi FOMO adalah menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti. Setiap hari akan selalu ada tren baru, kegiatan baru, dan pencapaian baru yang dilakukan orang lain.

 

Mencoba mengikuti semuanya hanya akan membuat seseorang kelelahan.

 

Setiap individu memiliki prioritas, kebutuhan, dan tujuan hidup yang berbeda. Apa yang penting bagi orang lain belum tentu penting bagi diri sendiri.

 

Dengan memahami hal tersebut, seseorang dapat lebih fokus pada apa yang benar-benar memberikan manfaat dan kebahagiaan dalam hidupnya.

Menjalani Hidup dengan Ritme Sendiri

Pada akhirnya, kehidupan tidak dapat diukur dari seberapa banyak tren yang diikuti atau seberapa sering seseorang hadir dalam setiap momen yang sedang ramai diperbincangkan.

 

Akan selalu ada acara yang tidak dihadiri, informasi yang terlewat, atau kesempatan yang tidak sempat diambil. Namun hal tersebut bukan berarti seseorang sedang gagal menjalani hidupnya.

 

Di tengah arus informasi yang bergerak begitu cepat, kemampuan untuk menerima bahwa kita tidak harus mengetahui dan mengikuti segalanya menjadi semakin penting.

 

Karena hidup yang bermakna bukan tentang selalu hadir di setiap tempat, melainkan tentang mampu menikmati tempat dan waktu yang sedang dijalani saat ini.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.