MALANG — Di media sosial, banyak orang terlihat bahagia. Ada yang baru lulus kuliah, diterima kerja, membangun bisnis, mendapatkan beasiswa, atau membagikan momen-momen menyenangkan bersama teman dan keluarga. Di tengah banjir pencapaian tersebut, tidak sedikit orang yang diam-diam bertanya pada dirinya sendiri, “Kenapa hidupku tidak sehebat mereka?”
Pertanyaan itu mungkin pernah muncul dalam benak banyak orang. Ketika melihat orang lain tampak sukses dan bahagia, muncul perasaan tertinggal yang sulit dijelaskan. Padahal, apa yang terlihat di layar belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan.
Fenomena ini semakin sering terjadi pada generasi muda yang tumbuh bersama media sosial dan budaya perbandingan.
“Masalahnya bukan karena hidup kita terlalu buruk. Terkadang kita hanya terlalu sering melihat potongan terbaik dari kehidupan orang lain.”
Tanpa disadari, banyak orang mulai mengukur dirinya berdasarkan pencapaian orang lain. Kelulusan teman menjadi ukuran keberhasilan. Karier orang lain menjadi standar masa depan. Bahkan kebahagiaan pun sering dibandingkan.
Akibatnya, hidup perlahan terasa seperti perlombaan yang tidak pernah selesai. Selalu ada orang yang terlihat lebih sukses, lebih produktif, atau lebih bahagia.
Padahal setiap individu memulai perjalanan dari titik yang berbeda. Mereka memiliki kesempatan, tantangan, dan kondisi hidup yang tidak sama.
Saat membuka media sosial, audiens jarang melihat kegagalan yang dialami seseorang. Yang lebih sering muncul adalah foto wisuda, promosi jabatan, perjalanan liburan, atau pencapaian yang membanggakan.
Hal tersebut membuat banyak orang lupa bahwa setiap kehidupan memiliki sisi yang tidak ditampilkan. Di balik foto yang terlihat sempurna, bisa saja ada perjuangan, kecemasan, atau masalah yang tidak diketahui orang lain.
Karena itu, membandingkan kehidupan nyata dengan kehidupan yang telah diseleksi untuk ditampilkan di media sosial sering menghasilkan kesimpulan yang tidak adil.
Salah satu perasaan yang paling sering muncul akibat perbandingan sosial adalah merasa tertinggal. Banyak orang mulai khawatir ketika melihat teman-temannya sudah mencapai sesuatu yang belum mereka miliki.
Padahal, tertinggal dan gagal adalah dua hal yang berbeda.
Seseorang mungkin berjalan lebih lambat, tetapi tetap bergerak maju. Ada orang yang menemukan tujuan hidupnya lebih awal. Ada pula yang baru menemukannya setelah melalui banyak pengalaman.
Tidak ada garis waktu yang berlaku sama untuk semua orang.
“Bunga tidak mekar pada waktu yang sama. Namun setiap bunga tetap tumbuh sesuai waktunya.”
Ketika terlalu sibuk memperhatikan kehidupan orang lain, seseorang sering kehilangan kesempatan untuk menghargai perjalanannya sendiri.
Padahal setiap individu memiliki pencapaian yang layak diapresiasi. Menyelesaikan tugas yang sulit, bertahan dalam masa yang berat, atau berani mencoba hal baru merupakan bentuk kemajuan yang sering diabaikan.
Kemajuan tidak selalu harus besar agar memiliki arti.
Terkadang, satu langkah kecil yang dilakukan hari ini jauh lebih penting daripada terus membandingkan diri dengan langkah besar orang lain.
Salah satu hal yang jarang disadari adalah bahwa banyak orang yang terlihat baik-baik saja sebenarnya juga sedang berjuang.
Mereka mungkin memiliki kecemasan yang tidak terlihat. Mereka bisa saja sedang menghadapi masalah keluarga, tekanan pekerjaan, atau kebingungan mengenai masa depan.
Karena setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu dibagikan kepada publik.
Kesadaran ini membantu seseorang melihat bahwa kehidupan tidak sesederhana apa yang tampak di layar ponsel.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat mencapai tujuan. Hidup adalah perjalanan yang memiliki ritme berbeda bagi setiap orang.
Akan selalu ada seseorang yang lebih cepat. Akan selalu ada seseorang yang lebih unggul dalam bidang tertentu.
Namun hal itu tidak membuat perjalananmu menjadi kurang berarti.
Karena nilai hidup tidak ditentukan oleh seberapa cepat kamu sampai di tujuan, melainkan oleh bagaimana kamu terus melangkah meski sering merasa ragu.
“Mungkin kamu tidak sedang tertinggal. Mungkin kamu hanya sedang berjalan di jalan yang berbeda.”
Dan bisa jadi, jalan yang sedang kamu tempuh saat ini akan membawamu ke tempat yang memang ditujukan untukmu sejak awal.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.