Art Therapy - Story Telling

Burnout Bayangi Mahasiswa Jelang UAS, Psikolog Soroti Tekanan Akademik.

Halo Sobat Antares!

Malang – Menjelang Ujian Akhir Semester (UAS), fenomena burnout di kalangan mahasiswa kembali menjadi sorotan. Tumpukan tugas, proyek akhir, laporan praktikum, hingga tekanan untuk memperoleh nilai yang baik membuat banyak mahasiswa mengalami kelelahan fisik dan mental.


Psikolog Muhammad Ecxel Sandy, S.Psi. mengungkapkan bahwa kasus burnout umumnya meningkat saat memasuki periode UAS. Menurutnya, berbagai tuntutan akademik yang datang secara bersamaan membuat tingkat stres mahasiswa lebih tinggi dibandingkan waktu perkuliahan biasa.


“Biasanya meningkat saat UAS karena banyak tuntutan yang datang bersamaan, mulai dari ujian, tugas akhir, laporan praktikum, hingga presentasi yang tertunda. Akumulasi dari semua tuntutan itu membuat stres mahasiswa meningkat,” ujarnya.


Ia menjelaskan bahwa burnout pada mahasiswa umumnya ditandai dengan rasa lelah yang berkepanjangan, sulit fokus saat belajar atau mengerjakan tugas, kehilangan motivasi, hingga kecenderungan menarik diri dari lingkungan sosial. Jika tidak ditangani dengan baik, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi masalah kesehatan mental yang lebih serius.


Salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) semester empat, Haya Jihan, mengaku pernah mengalami burnout saat menghadapi masa-masa menjelang UAS. Ia mengatakan kondisi tersebut membuatnya sulit berkonsentrasi meski tugas dan deadline terus mendekat.


“Kalau sudah burnout bawaannya deg-degan terus. Mau lanjut ngerjain tugas jadi nggak bisa mikir dan nggak fokus, malah kepikiran ke mana-mana. Tapi kalau mau istirahat juga nggak tenang karena takut tugasnya nggak selesai sebelum deadline,” katanya.


Menurut Haya, burnout yang dialaminya juga memunculkan gejala fisik seperti pusing dan mual akibat rasa cemas yang berlebihan. Selain itu, kualitas tugas yang dikerjakan sering kali menurun karena sulit berkonsentrasi.


Ia menilai salah satu penyebab utama burnout adalah banyaknya pekerjaan yang harus diselesaikan dalam waktu yang terbatas. Kondisi tersebut semakin berat ketika harus mencari referensi tugas yang sesuai atau mengerjakan tugas kelompok yang akhirnya dikerjakan sendiri.


“Kadang di kepala sudah banyak ide dan rencana yang ingin dikerjakan, tapi progresnya masih sedikit. Jadi bingung harus mulai dari mana dan akhirnya terburu-buru sendiri,” ujarnya.


Untuk mengatasi burnout, Haya biasanya mengalihkan pikirannya sejenak dengan bermain media sosial atau menghabiskan waktu bersama pasangan sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya. Meski demikian, ia tetap memilih menyelesaikan seluruh tanggung jawab akademiknya.


“Walaupun burnout tetap harus diselesaikan. Kalau nggak dikerjakan malah jadi overthinking karena itu tanggung jawab kita juga,” katanya.


Sementara itu, Ecxel menyarankan mahasiswa yang mulai merasakan gejala burnout untuk mengenali kondisi dirinya, mengatur ulang prioritas, serta menjaga kebutuhan dasar seperti tidur yang cukup, makan teratur, dan olahraga. Ia juga menekankan pentingnya mencari dukungan dari orang terdekat atau profesional apabila kondisi mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.


Selain itu, Haya berharap kampus tidak hanya menyediakan program kesehatan mental, tetapi juga memperhatikan akar permasalahan yang menyebabkan mahasiswa mengalami burnout. Menurutnya, evaluasi terhadap beban tugas dan tenggat waktu yang berdekatan perlu dilakukan agar tekanan yang dirasakan mahasiswa dapat berkurang.


“Percuma kalau kampus kasih banyak program, tapi penyebab utamanya nggak diatasi. Kalau memang tugas dan proyeknya terlalu banyak dalam waktu yang mepet, ya perlu dievaluasi juga,” tutupnya.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.