Jeratan Linimasa dan Jebakan ‘Self-Diagnosis’: Saat Gen Z Malang Menimbang Batas Ruang Aman

MALANG — Istilah burnout, anxiety, hingga toxic environment kini bertebaran di setiap sudut percakapan anak muda Kota Malang. Generasi Z memandang kesehatan mental bukan lagi sebagai aib masa lalu yang harus disembunyikan, melainkan bagian penting dari kesejahteraan hidup yang berani disuarakan secara terbuka.

Namun, keterbukaan ini membawa pedang bermata dua di tengah derasnya arus konten digital.

Ersa, seorang lulusan Psikologi, menyoroti maraknya fenomena diagnosis mandiri (self-diagnosis) yang menjamur akibat paparan konten kesehatan mental yang dangkal dan serba instan di media sosial. Banyak anak muda yang buru-buru menyematkan label klinis pada diri sendiri hanya berdasarkan video berdurasi singkat tanpa pemeriksaan medis.

“Kesadaran diri itu hal baik, tetapi diagnosis klinis tetap harus melalui bimbingan profesional. Jangan mentang-mentang kita Gen Z dan merasa paham definisinya, kita langsung mendiagnosis diri sendiri tanpa bantuan ahli. Konten singkat di TikTok atau media sosial lain kerap tidak memiliki konteks yang utuh,” tegas Ersa.

Kerapuhan ruang digital kian bertambah ketika linimasa dijadikan tempat pelampiasan emosi secara terbuka (oversharing). Menumpahkan masalah pribadi saat emosi memuncak sering kali berujung pada penyesalan, perundungan siber (cyberbullying), atau sekadar cibiran warganet.

Kerentanan itu dirasakan langsung oleh Nadia, seorang mahasiswi di Malang. Baginya, mengunggah keresahan batin di jagat maya menyimpan risiko besar karena tidak semua pengguna internet memiliki empati yang setara.

“Media sosial itu risikonya besar karena nggak semua orang peduli. Ada yang mungkin menghargai, tapi banyak juga yang malah mencibir dan bilang ‘Apa sih, gitu doang alay’. Akhirnya kita yang lagi butuh dukungan justru disalah-salahkan dan merasa dihakimi,” kata Nadia.

Menurut Ersa, ruang aman yang sesungguhnya harus mampu menjamin kerahasiaan dan privasi, memiliki moderasi yang bebas dari ujaran kebencian, serta menjadi jembatan langsung menuju bantuan profesional. Bagi siapa pun yang tengah bergulat dengan badai batin namun masih diliputi rasa takut untuk bersuara, Ersa menitipkan pesan yang menguatkan.

“Perasaanmu valid dan kamu tidak harus menanggung semuanya sendirian. Merasa tidak baik-baik saja adalah hal yang manusiawi, bukan tanda kelemahan. Kalau masih takut untuk bercerita langsung kepada orang lain, mulailah meluapkannya lewat tulisan jurnal pribadi atau karya seni. Ingat, berani mencari bantuan—baik ke sahabat maupun tenaga ahli—adalah bentuk keberanian tertinggi untuk merawat dirimu sendiri,” tutup Ersa.

.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA