MALANG — Informasi kesehatan mental kini bisa ditemukan hanya dalam beberapa pencarian. Namun, semakin mudah informasi didapat, semakin penting pula memahami batas antara mengenali kondisi diri dan mendiagnosis diri sendiri.
“Kayaknya aku anxiety.”
Kalimat seperti itu semakin mudah ditemukan dalam percakapan anak muda. Istilah kesehatan mental tidak lagi hanya muncul dalam ruang konsultasi atau pembahasan akademis. Di media sosial, berbagai konten tentang kecemasan, depresi, trauma, hingga self-diagnosis muncul hampir setiap hari.
Ketika seseorang merasa memiliki gejala yang sama dengan apa yang ia lihat di layar, muncul kemungkinan lain: informasi tersebut tidak hanya dibaca, tetapi langsung digunakan untuk menjelaskan kondisi dirinya.
Lailia Rahmadanti, lulusan Psikologi Universitas Negeri Malang, melihat perkembangan ini memiliki dua sisi. Menurutnya, informasi kesehatan mental yang mudah ditemukan melalui media sosial, Google, maupun ChatGPT dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat. Orang menjadi lebih mengenal berbagai istilah dan kondisi yang sebelumnya mungkin tidak mereka pahami.
Masalahnya muncul ketika seseorang mulai menentukan diagnosis hanya berdasarkan informasi yang ia temukan sendiri.
Lailia membedakan antara rasa cemas yang merupakan pengalaman sehari-hari dengan anxiety disorder. Menurutnya, merasa cemas tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan. Informasi dari internet dapat membantu seseorang mengenali apa yang sedang dirasakan, tetapi tidak bisa begitu saja dijadikan dasar untuk menentukan diagnosis.
Pengalaman Anisa Iskandar memperlihatkan bahwa kondisi seseorang tidak selalu langsung terlihat sesuai dengan istilah kesehatan mental yang kemudian digunakan untuk menjelaskannya.
Anisa pernah mengalami kesulitan makan. Setiap kali makanan berada di depannya, ia hanya bisa melihatnya sambil menangis. Saat itu, ia mengira masalah tersebut berkaitan dengan GERD yang dimilikinya. Bagi Anisa, anggapan itu terasa masuk akal karena ia memang mempunyai masalah lambung.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya mulai mempertanyakan anggapan tersebut.
Rasa sakit pada lambungnya kemudian mereda, tetapi kesulitan makan tetap ada. Dari situ Anisa merasa ada kondisi yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan masalah lambung.
Ia kemudian berkonsultasi ke dokter jiwa. Anisa mengatakan bahwa saat berada di ruang konsultasi, ia tidak mendapat penjelasan diagnosis secara langsung. Namun, pada lembaran daring yang ia lihat, terdapat keterangan yang menurutnya mengarah pada depresi dan anxiety.
Pengalaman itu menjadi salah satu contoh bahwa gejala yang dirasakan seseorang tidak selalu mudah diberi nama.
Hal yang sama juga terjadi pada kesedihan. Anisa mengatakan bahwa sebelumnya ia menganggap kesedihan yang berlangsung lama sebagai sesuatu yang wajar. Ia berpikir orang lain juga mungkin mengalami fase tersebut dalam hidup mereka. Setelah berkonsultasi, ia baru mengetahui bahwa kesedihan yang terus-menerus dapat menjadi bagian dari gejala depresi.
Di sinilah pencarian informasi kesehatan mental menjadi persoalan yang tidak sesederhana mencocokkan gejala.
Kemudahan akses informasi membuat proses mencari tahu tentang kesehatan mental menjadi jauh lebih cepat.
Seseorang yang merasa sulit tidur dapat langsung mencari penyebabnya. Orang yang sering merasa takut atau khawatir bisa membaca mengenai kecemasan. Mereka yang kehilangan semangat juga dapat menemukan berbagai konten mengenai depresi.
Informasi tersebut bisa menjadi awal seseorang menyadari bahwa ada perubahan dalam dirinya.
Tetapi pengalaman yang terlihat serupa belum tentu memiliki penjelasan yang sama.
Menurut Lailia, perbedaan antara rasa cemas dan anxiety disorder perlu diperhatikan. Penggunaan istilah kesehatan mental secara sembarangan dapat membuat seseorang menganggap pengalaman sehari-hari sebagai sebuah gangguan.
Karena itu, ada batas antara mengenali dan mendiagnosis.
Mengenali berarti menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dan mencoba mencari tahu apa yang sedang dirasakan. Mendiagnosis berarti menetapkan suatu kondisi tertentu. Dua hal tersebut tidak berada pada tahap yang sama.
Dalam pengalaman Anisa, prosesnya justru berjalan melalui pertanyaan terhadap kondisi dirinya sendiri. Ia tidak langsung mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia sempat menganggap kesulitan makan sebagai akibat penyakit lambung, kemudian mencari bantuan ketika kondisi tersebut tidak ikut membaik setelah masalah lambungnya mereda.
Artinya, pengalaman pribadi bisa menjadi alasan untuk mencari pertolongan, bukan selalu menjadi dasar untuk membuat kesimpulan sendiri.
Ada alasan lain mengapa internet menjadi tempat yang menarik untuk mencari jawaban mengenai kondisi mental.
Tidak semua orang nyaman bercerita secara langsung kepada orang lain.
Dalam wawancara, Lailia mengatakan seseorang bisa memilih gambar atau tulisan untuk mengekspresikan emosi karena bentuk tersebut tidak langsung menghadirkan respons dari orang lain. Ketika seseorang bercerita secara langsung, ada kemungkinan muncul pertanyaan, tanggapan, atau penilaian yang membuatnya merasa tertekan.
Ruang digital kemudian memberikan jarak.
Seseorang dapat membaca tanpa harus menjelaskan dirinya kepada siapa pun. Ia bisa mencari istilah yang menurutnya paling mendekati pengalaman pribadi tanpa harus langsung berhadapan dengan orang lain.
Bagi sebagian orang, proses itu mungkin terasa lebih aman.
Namun, jarak tersebut juga membuat informasi yang ditemukan mudah diterima tanpa konteks. Sebuah unggahan media sosial biasanya dibuat untuk menjelaskan hal tertentu secara singkat. Pengalaman seseorang di kolom komentar juga tidak otomatis bisa dijadikan gambaran kondisi orang lain.
Karena itu, banyaknya informasi tidak selalu berarti seseorang semakin mudah memahami dirinya.
Persoalan kesehatan mental di ruang digital juga tidak berhenti pada self-diagnosis.
Lailia menyoroti kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain di media sosial. Menurutnya, anak muda perlu berhati-hati dengan kebiasaan tersebut karena apa yang terlihat di media sosial biasanya hanya sebagian dari kehidupan seseorang.
Seseorang melihat temannya lulus lebih dulu, mendapatkan pekerjaan, bepergian, memiliki hubungan, atau mencapai sesuatu yang belum ia miliki. Dari layar yang sama, ia kemudian menilai kehidupannya sendiri.
Perbandingan semacam itu dapat membuat seseorang merasa tertinggal atau kurang menghargai dirinya sendiri.
Situasinya menjadi lebih rumit ketika informasi mengenai kesehatan mental juga dikonsumsi dalam pola yang sama. Pengguna media sosial tidak hanya membandingkan pencapaian, tetapi juga pengalaman emosional.
“Aku juga sering begini.”
“Aku juga susah tidur.”
“Aku juga sering overthinking.”
Dari sana, sebuah istilah bisa terasa sangat dekat dengan kehidupan seseorang.
Padahal, kesamaan pengalaman tidak otomatis berarti kesamaan kondisi.
Lailia tidak melihat informasi kesehatan mental sebagai sesuatu yang harus dijauhi. Justru, menurutnya, informasi tersebut dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana informasi itu digunakan.
Seseorang bisa menggunakan internet untuk mencari tahu mengapa dirinya merasa berbeda dari biasanya. Ia bisa membaca pengalaman orang lain, mengenali perubahan dalam kesehariannya, atau menemukan istilah yang sebelumnya tidak pernah ia dengar.
Namun setelah itu, masih ada proses yang perlu dilalui.
Pengalaman Anisa menunjukkan bahwa proses memahami kondisi diri bisa berlangsung bertahap. Ia sempat menganggap masalahnya sebagai persoalan lambung. Setelah melihat masalah tersebut tidak selesai ketika kondisi lambung membaik, ia memilih berkonsultasi.
Ada pula pemahaman lain yang ia dapat setelah menjalani proses tersebut. Anisa mengatakan bahwa dirinya pernah mendengar anggapan bahwa depresi dan anxiety disebabkan kurang dekat dengan Tuhan. Menurutnya, kedekatan spiritual dan kondisi mental merupakan hal yang berbeda. Ia juga menilai kegiatan spiritual dapat memberi ketenangan, tetapi tetap ada situasi ketika seseorang membutuhkan bantuan ahli.
Cerita Anisa dan penjelasan Lailia bertemu pada satu hal: pengalaman terhadap kesehatan mental tidak selalu bisa dijelaskan hanya dari apa yang muncul di layar.
Internet dapat menjadi tempat pertama seseorang mencari informasi. Ia bisa membuka percakapan yang sebelumnya sulit dimulai. Tetapi ketika pencarian berubah menjadi kesimpulan tentang kondisi diri sendiri, ada batas yang perlu diperhatikan.
Tidak semua rasa cemas berarti anxiety disorder. Tidak semua kesedihan berarti depresi. Dan tidak semua pengalaman yang terasa sama dengan cerita orang lain berarti memiliki kondisi yang sama.
Mungkin, pertanyaan yang lebih penting setelah menemukan informasi kesehatan mental bukan hanya, “Apakah aku seperti ini?”
Tetapi juga, “Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada diriku, dan dari mana aku bisa mendapatkan pemahaman yang tepat?”Informasi kesehatan mental kini bisa ditemukan hanya dalam beberapa pencarian. Namun, semakin mudah informasi didapat, semakin penting pula memahami batas antara mengenali kondisi diri dan mendiagnosis diri sendiri.
“Kayaknya aku anxiety.”
Kalimat seperti itu semakin mudah ditemukan dalam percakapan anak muda. Istilah kesehatan mental tidak lagi hanya muncul dalam ruang konsultasi atau pembahasan akademis. Di media sosial, berbagai konten tentang kecemasan, depresi, trauma, hingga self-diagnosis muncul hampir setiap hari.
Ketika seseorang merasa memiliki gejala yang sama dengan apa yang ia lihat di layar, muncul kemungkinan lain: informasi tersebut tidak hanya dibaca, tetapi langsung digunakan untuk menjelaskan kondisi dirinya.
Lailia Rahmadanti, lulusan Psikologi Universitas Negeri Malang, melihat perkembangan ini memiliki dua sisi. Menurutnya, informasi kesehatan mental yang mudah ditemukan melalui media sosial, Google, maupun ChatGPT dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat. Orang menjadi lebih mengenal berbagai istilah dan kondisi yang sebelumnya mungkin tidak mereka pahami.
Masalahnya muncul ketika seseorang mulai menentukan diagnosis hanya berdasarkan informasi yang ia temukan sendiri.
Lailia membedakan antara rasa cemas yang merupakan pengalaman sehari-hari dengan anxiety disorder. Menurutnya, merasa cemas tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan kecemasan. Informasi dari internet dapat membantu seseorang mengenali apa yang sedang dirasakan, tetapi tidak bisa begitu saja dijadikan dasar untuk menentukan diagnosis.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.
Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka
+62 851-7213-0182
diantarakudankamudanhati@gmail.com
Malang, East Java, Indonesia
Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA