Seni: Sebuah Jendela Penenang Yang Menjadi Penyejuk Hati Di Tengah Gempuran Tekanan Dunia Era Digital

Seni: Sebuah Jendela Penenang Yang Menjadi Penyejuk Hati Di Tengah Gempuran Tekanan Dunia Era Digital

MALANG — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan masa kini, di mana media sosial seolah menjadi cermin standar kebahagiaan dan kesuksesan, kesehatan mental perlahan menjadi topik yang tak bisa lagi diabaikan. Banyak orang berlomba menampilkan sisi terbaiknya di layar, namun jarang yang berani mengakui beban yang dipikul di baliknya. Di sinilah peran terapi seni muncul sebagai salah satu alternatif yang kini semakin dipercaya untuk membantu menenangkan jiwa yang gelisah.

A dried rose is no longer fresh, yet its beauty remains like art that soothes a weary soul amidst the hustle and bustle of the digital world, offering solace to the heart when the pressure feels overwhelming.

https://www.instagram.com/ayu_alfiyahana_dela

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Della Ayu Alfiahna, seorang praktisi kesehatan di Rumah Sakit Umum Universitas Muhammadiyah Malang, membagikan pandangannya mengenai hubungan antara kesehatan mental dan terapi seni. Menurut Della, di era saat ini terutama di kalangan Generasi Z perhatian terhadap kesehatan tubuh saja tidak lagi cukup. Kesehatan mental memegang peranan yang sama pentingnya, bahkan sering kali menjadi fondasi bagi kesejahteraan seseorang secara keseluruhan.

Tekanan yang dirasakan saat ini datang dari berbagai arah. Media sosial menciptakan ekspektasi yang sering kali tidak realistis: orang dituntut tampil sempurna, sukses, dan bahagia setiap saat. Padahal kenyataannya, kehidupan nyata tidak selalu berjalan mulus. Banyak orang merasa kurang atau gagal hanya karena kenyataan hidupnya tidak seindah apa yang terlihat di layar ponsel. Kesenjangan antara harapan dan kenyataan inilah yang perlahan-lahan menggerogoti kesehatan mental seseorang tanpa disadari.

Di sinilah terapi seni menawarkan pendekatan yang lembut namun bermakna. Bagi Della, terapi seni bukan sekadar membuat karya yang indah, melainkan sebuah proses yang melibatkan kesabaran, ketelitian, dan pengendalian emosi. Saat seseorang menggambar, mewarnai, atau bahkan sekadar menikmati keindahan alam, ia sedang belajar mengenali dan menata kembali perasaannya. Seni menjadi saluran di mana emosi yang sulit diucapkan dengan kata-kata dapat tercurah dengan bebas.

Ketika ditanya apakah ia sendiri pernah menggunakan seni untuk meredakan stres, Della menjawab dengan jujur bahwa ia lebih sering memilih mendengarkan musik atau sekadar menikmati pemandangan saat merasa tertekan. Namun baginya, itu pun sudah merupakan bentuk terapi seni. Seni itu luas tidak terbatas pada lukisan atau patung saja. Mendengarkan irama yang menenangkan, menghirup udara segar sambil memandangi alam, itu semua adalah cara jiwa beristirahat melalui keindahan.

Della juga menekankan bahwa seni tidak harus rumit untuk memberi manfaat. Mewarnai di atas kanvas, memotret pemandangan, atau sekadar berdiam diri menikmati suasana, semuanya bisa menjadi sarana melepaskan ketegangan. Yang terpenting adalah prosesnya, bukan hasil akhirnya. Saat kita fokus pada apa yang sedang kita nikmati, pikiran perlahan menjadi tenang, dan beban yang tadinya terasa berat pun perlahan terangkat.

Ditanya tentang apa yang membuatnya tertarik atau ragu untuk mencoba terapi seni lebih lanjut, Della mengaku rasa tertariknya jauh lebih besar daripada keraguannya. Baginya, seni adalah cerminan jiwa bebas, unik, dan tak terbatas. Satu-satunya hal yang mungkin membuatnya ragu adalah jika seni tersebut diubah menjadi kewajiban yang kaku, di mana seseorang harus menghasilkan karya sesuai perintah. Justru kebebasan berekspresi itulah yang membuat seni begitu berharga bagi kesehatan mental.

 

Pada akhirnya, terapi seni mengingatkan kita bahwa kita tidak harus selalu sempurna. Kita boleh merasa lelah, boleh merasa sedih, dan boleh mengekspresikannya dengan cara yang paling kita nyaman. Di tengah dunia yang terus berubah dengan cepat, seni hadir sebagai ruang aman tempat kita berhenti sejenak, bernapas, dan kembali menyadari bahwa cukup menjadi diri sendiri sudah cukup berharga. 

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA