Pendirian untuk tetap maju, mahasiswa masih bisa bangun.

MALANG — Hai, Antares. Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi mahasiswa, apa yang membuat mereka tetap memilih untuk bertahan?

Kehidupan mahasiswa tidak selalu berjalan mudah. Tuntutan akademik, persoalan pribadi, hingga tekanan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi beban yang harus dihadapi. Dalam kondisi tertentu, tekanan tersebut dapat berkaitan dengan munculnya pikiran untuk mengakhiri hidup. Namun, di balik isu tersebut, terdapat pertanyaan penting yang juga perlu dibicarakan: mengapa masih banyak mahasiswa yang memilih untuk bertahan sampai sekarang?

Menurut Zara, salah satu alasan yang membuat mahasiswa tetap bertahan adalah agama. Bagi dirinya, ajaran agama menjadi prinsip yang memberikan batasan sekaligus pegangan ketika menghadapi berbagai persoalan.

“Prinsip itu datangnya dari aturan agama yang melarang tidak boleh bunuh diri,” ujar Zara.

Selain keyakinan agama, Zara menilai keberadaan orang-orang yang peduli juga memiliki peran penting. Perasaan bahwa masih ada seseorang yang menyayangi, memperhatikan, dan dapat diajak berbicara dapat menjadi alasan untuk terus bertahan. Menurutnya, seseorang dapat merasa semakin terpuruk ketika merasa tidak memiliki siapapun di sekitarnya.

“Masih ada orang yang sayang sama mereka, masih ada seseorang yang bisa mereka ajak bicara,” lanjut Zara.

Zara juga menyebut ketakutan terhadap kematian sebagai salah satu faktor lain. Menurut pandangannya, seseorang yang mengalami depresi atau tekanan berat mungkin dapat memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup, tetapi rasa takut terhadap kematian dapat membuatnya menunda tindakan tersebut.

Sementara itu, Alya melihat alasan mahasiswa bertahan dari sudut pandang kekuatan dalam diri. Menurutnya, mahasiswa yang mampu menghadapi tekanan memiliki pondasi diri yang kuat sehingga dapat membantu mereka melewati situasi sulit.

“Mereka udah punya fondasi kuat sama dirinya sendiri untuk menghadapi tekanan yang ada,” kata Alya.

Alya juga menjelaskan bahwa afirmasi positif dalam diri dapat membantu seseorang mempertahankan keyakinan bahwa dirinya mampu menjadi kuat. Dengan adanya fondasi tersebut, pikiran untuk bunuh diri tidak menjadi sesuatu yang langsung menghalangi seseorang untuk terus bertahan.

Dari kedua pandangan tersebut, terlihat bahwa alasan seseorang untuk bertahan dapat berasal dari berbagai hal. Zara menekankan agama, kepedulian dari orang sekitar, dan rasa takut terhadap kematian, sedangkan Alya menyoroti kekuatan serta afirmasi positif dalam diri.

Pertanyaan “mengapa mahasiswa masih bertahan?” pada akhirnya tidak memiliki satu jawaban yang berlaku bagi semua orang. Setiap mahasiswa memiliki pengalaman dan alasan masing-masing. Ada yang bertahan karena keyakinan, karena masih memiliki orang yang peduli, atau karena menemukan kekuatan dalam dirinya sendiri.

Karena itu, membicarakan isu bunuh diri di kalangan mahasiswa juga perlu diiringi dengan perhatian terhadap alasan-alasan yang membuat mereka tetap bertahan. Memahami alasan tersebut dapat membuka ruang percakapan mengenai pentingnya dukungan, kepedulian, dan kekuatan diri ketika mahasiswa menghadapi tekanan kehidupan.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA