MALANG —Menurut (World Health Organization), Mental disorder dilihat dari ciri tertentu dari seorang individu dari segi perasaan, emosi dan perilaku. Biasanya itu mencantum dengan stres berlebihan atau ketidaksesuaian dalam kepentingan yang dibutuhkan. Hal itu menyebabkan menurunnya sumber daya manusia di dunia.
Dalam sebuah wawancara dengan seorang penyintas gangguan mental, narasumber menjelaskan bahwa kesehatan mental tidak terlihat secara langsung oleh mata karena berkaitan dengan jiwa dan kondisi batin seseorang.
“Kesehatan mental itu sebuah yang nggak bisa terlihat sama mata, karena kesehatan itu dari dalam jiwa.” Kata Narasumber, Kamis (7/5/2026).
Banyak orang masih menganggap gangguan disorder atau mental sebagai sesuatu yang “tidak serius” karena tidak terlihat secara langsung. Padahal, kondisi mental yang terganggu dapat memunculkan berbagai gejala fisik seperti hilangnya nafsu makan, gangguan pencernaan, kelelahan kronis, dll.
Namun seiringnya perkembangan media sosial seperti TikTok dan Instagram yang membuat isu kesehatan mental, kesadaran masyarakat menjadi meningkat dari tahun ke tahun. Survei tahun 2022 menunjukkan bahwa 77% responden di Indonesia mulai merasa nyaman berbicara tentang kesehatan mental. Hal ini memang informasi yang positif, namun di sisi lain, fenomena ini membuat munculnya masalah baru, yaitu Self-Diagnose.
“Penyakit mental itu jadi hal yang mudah terdiagnosa sendiri.” Kata Narasumber, Kamis (7/5/2026)
Fenomena Self-Diagnose memang semakin umum terjadi di kalangan remaja dan pengguna media sosial. Menurut National Alliance on Mental Illness (NAMI), diagnosa kesehatan mental harus dilakukan oleh tenaga profesional seperti Psikolog atau Psikiater agar penanganan yang diberikan sesuai dengan kondisi pasien.
Salah satu poin penting dalam wawancara adalah kebutuhan masyarakat terhadap informasi mengenai langkah penanganan gangguan mental.
“Aku pengennya orang-orang itu gak secepat untuk mendiagnosa diri mereka sendiri.” Tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penanganan kesehatan sebaiknya dilakukan secara bertahap dan profesional.
“Digali dulu kenapanya baru ke SPKJ yang lebih detail diagnosisnya.” Lanjutnya.
Salah satu terapi yang ia jalani adalah Art Therapy. Melalui gambar dan warna, seseorang dapat mengekspresikan emosi yang sulit diungkapkan dengan kata kata.
Terapi seni atau Art Therapy memang dikenal sebagai salah satu metode pendukung kesehatan mental lewat arsiran, gambaran, kiasan, atau hal apapun yang terhubung dengan seni. Art Therapy sendiri telah digunakan dalam berbagai pendekatan psikologis untuk membantu pasien memahami emosi, mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental.
Menurut American Art Therapy Association, terapi seni dapat membantu individu meningkatan kemampuan kognitif untuk mengelola emosi dan mengurangi gejala trauma maupun kecemasan.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.
Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka
+62 851-7213-0182
diantarakudankamudanhati@gmail.com
Malang, East Java, Indonesia
Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA