Tak Harus Indah untuk Menemukan Jeda

MALANG — Bagi Fifi, menggambar tidak selalu tentang menghasilkan sesuatu yang indah. Mahasiswa Hubungan Internasional berusia 21 tahun itu lebih sering membiarkan tangannya bergerak melalui doodling atau melukis ketika pikirannya sedang penuh. Ia bahkan mengakui bahwa hasil gambarnya mungkin terlihat “jelek”, tetapi hal tersebut bukan persoalan baginya. Yang ia cari dari kegiatan itu adalah rasa nyaman setelah memberi perhatian pada sesuatu yang sedang dikerjakan.

Ketertarikan Fifi terhadap seni sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Sejak sebelum mendapatkan diagnosis, ia sudah menyukai novel dengan unsur artistik, puisi, tulisan sastra, hingga berbagai kegiatan seperti membuat kerajinan dan menari. Ketika masih duduk di bangku sekolah, ia juga pernah menulis cerita pendek dan terlibat dalam kegiatan jurnalistik yang berkaitan dengan karya sastra. Namun, ketika memasuki masa kuliah, ia merasa ketertarikannya terhadap beberapa hal mulai berkurang dan tidak lagi memiliki “spark” yang sama seperti sebelumnya.

 

Meski begitu, seni masih menjadi bagian yang sesekali ia datangi. Saat ini Fifi lebih tertarik pada puisi serta lukisan abstrak dan historis. Ia juga masih melakukan doodling ketika berada di kelas dan membuat lukisan dengan pola angka. Aktivitas tersebut tidak ia lakukan untuk menunjukkan kemampuan menggambar ataupun menghasilkan karya yang dapat dinilai orang lain. Ia melakukannya karena prosesnya sendiri dapat membantu mengurangi rasa yang terasa mengganjal.

 

Ketika pikirannya terasa terlalu ramai atau emosinya sedang intens, Fifi mengatakan bahwa terapisnya pernah menyarankan aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian untuk sementara. Memasak atau melukis menjadi beberapa kegiatan yang dapat dilakukan untuk memberikan jeda dari pikiran tersebut. Fifi juga memilih menjauh sementara dari media sosial ketika membutuhkan ketenangan. Baginya, aktivitas kreatif bukan tentang menghilangkan persoalan, melainkan memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak dari sesuatu yang sedang memenuhi pikirannya.

 

Pengalaman itu memiliki kemiripan dengan Haura, mahasiswa Manajemen berusia 23 tahun. Haura tidak merasa dirinya sangat mendalami seni, tetapi ia menyukai beberapa aktivitas kreatif seperti mengedit foto dan video, membuat gambar sederhana, serta mendengarkan musik. Ketika mengerjakan sesuatu yang kreatif, perhatiannya lebih tertuju pada aktivitas yang sedang dilakukan. Pikiran yang sebelumnya terasa ramai pun dapat sedikit teralihkan karena ia sedang fokus pada proses tersebut.

 

Bagi Haura, aktivitas kreatif juga tidak selalu harus menghasilkan sesuatu yang dapat langsung menjelaskan perasaannya. Ada kalanya ia justru memilih sebuah lagu ketika kesulitan memahami atau menjelaskan apa yang sedang dirasakan. Ia merasa lebih bebas mengekspresikan sesuatu melalui kegiatan kreatif karena tidak harus langsung menjelaskan semuanya dengan kata-kata. Namun, ia juga menyadari bahwa aktivitas tersebut tidak selalu cukup untuk membuatnya memahami perasaannya secara langsung.

 

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA