Rantai tidak sehat apakah bisa menjadi alasan?

MALANG — Pelaku pembullyan juga pernah jadi korban? Apakah aksinya bisa dibenarkan?

Pernah menjadi korban tidak selalu membuat orang berhenti melakukan kejahatan, walau itu tidak terlihat pun. Dalam beberapa kasus, ada menyebutkan bahwa menjadi pelaku itu justru disebabkan karena dulunya adalah pihak korban di perundungan. Lantas, jika pelaku bullying sebelumnya juga seorang korban, apakah tindakannya dapat dibenarkan?

Bullying tidak hanya terjadi di suatu hubungan sederhana dengan pelaku dan korban saja. Di balik dinamis, adanya rantai tak sehat yang membentuk siklus kotor. Dalam diskusi kali ini akan membahas lebih detail tentang kasus tersebut. 

Awalnya munculnya pandangan bahwa sebagian pelaku bullying mungkin dulu juga pernah menjadi korban, baik dalam lingkungan sosial atau keluarga. 

Banyak spekulasi mengatakan bahwa kejadian tersebut menjadi salah satu cara seseorang dapat melampiaskan apa yang dia pernah alam. Dengan rasa kesakitan yang ia alami dan disalurkan ke orang lain, ia mendapatkan kekuatan atau rasa lebih dominan membuat dia berpikir dirinyalah pengendali situasi saat ini. 

Namun, ketika hal ini dibawa ke diskusi, para narasumber menjawab dengan tegas.

“Sekalipun kalian korban, terus kalian melakukannya, sama aja kalian salah lagi,” Ujar Ella (20)

Para narasumber pun bilang jika ada suatu peristiwa dimana mereka disuruh untuk memihak, mereka dengan yakin menjawab akan tetap di pihak korban.

“Korban dulu lah. Kan dia yang dirundung, berarti dia korbannya.” Ujar Fany (20)

Para narasumber pun menunjukan persoalan tentang adanya siklus bullying. Ketika seseorang yang pernah menjadi korban kemudian melakukan tindakan yang serupa terhadap orang lain, posisi korban dan pelaku terus dan terus berganti hingga tiada henti. Rasa sakit yang sebelumnya diterima dengan tidak sehat lalu menyalurkannya terhadap orang ke sebelah  yang tidak bersalah.

Ella (20) menilai jika seseorang pernah mengalami, dia juga bisa belajar dari pengalaman tersebut. Menurutnya, ketika seseorang sudah mengetahui bagaimana rasanya diperlakukan buruk, maka seharusnya berusaha untuk mengulangi kejadian yang sama.

Bagaimana jika ada udang dibalik batu?

Namun, topik diskusi berlanjut ke topik ketika bullying dilakukan sebagai bentuk balas dendam. Dalam diskusi tersebut, dibahas kemungkinan seorang korban  melakukan bullying kepada orang yang sebelumnya dianggap sebagai pelaku. Tindakan tersebut menjadi bentuk revenge atau pembalasan.

Di sisi lain, tidak semua perilaku dalam sebuah kelompok selalu langsung terlihat sebagai bullying. Candaan yang dianggap biasa oleh sebagian anggota kelompok dapat diterima secara berbeda oleh orang lain. Narasumber memberikan gambaran bahwa seseorang dapat merasa dirinya hanya bercanda, sementara orang yang menjadi sasaran justru merasa direndahkan atau diserang. Jika perilaku tersebut terus dilakukan dan menjadi kebiasaan dalam sebuah kelompok, tindakan tersebut dapat berkembang menjadi perundungan.

Karena itu, lingkungan pertemanan juga memiliki peran. Ketika sebuah kelompok mulai terbiasa mengolok-olok atau merendahkan seseorang, mengikuti perilaku tersebut hanya akan membuat tindakan itu terus berlanjut.

“Jangan ngikut,” tegas narasumber.

Pada akhirnya, pengalaman sebagai korban dapat membantu menjelaskan kemungkinan mengapa seseorang menjadi pelaku, tetapi tidak otomatis membuat tindakan tersebut benar. Ada perbedaan antara memahami alasan di balik sebuah perilaku dan membenarkan perilaku tersebut.

Jika seorang korban kemudian menyakiti orang lain dengan alasan pernah disakiti, siklus tersebut tidak benar-benar berakhir. Korban baru muncul, sementara pengalaman lama tetap menjadi sumber dari masalah berikutnya.

Maka, pertanyaan yang lebih penting bukan hanya “mengapa pelaku melakukan bullying?”, tetapi juga “bagaimana agar pengalaman sebagai korban tidak menciptakan korban berikutnya?”

Menghentikan siklus tersebut dapat dimulai dari hal sederhana: tidak ikut-ikutan ketika lingkungan mulai menjadikan seseorang sebagai sasaran, menyadari bahwa candaan dapat diterima berbeda oleh setiap orang, dan memahami bahwa pernah disakiti bukanlah alasan untuk menyakiti orang lain.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA