MALANG — Ada masa ketika mengatakan “tidak” terasa lebih sulit daripada menerima sesuatu yang sebenarnya tidak diinginkan. Bagi Anisa Iskandar, menolak permintaan orang lain pernah membuatnya takut kehilangan orang-orang di sekitarnya.
Ia khawatir keputusan untuk tidak memenuhi keinginan orang lain akan membuat dirinya ditinggalkan. Kekhawatiran itu membuat Anisa terbiasa menempatkan kepentingan orang lain di atas dirinya sendiri. Keinginan untuk membuat orang lain senang justru membuat kebutuhan dirinya sendiri sering berada di urutan terakhir.
“Dulu saya lebih mementingkan kebahagiaan orang lain daripada diri saya sendiri,” ujar Anisa.
Perubahan mulai terasa ketika ia belajar melihat hubungan dengan orang lain dari sudut pandang yang berbeda. Tidak semua permintaan harus dipenuhi dan tidak setiap penolakan berarti hubungan akan berakhir.
Bagi Anisa, proses tersebut bukan sekadar belajar mengatakan tidak. Ia mulai memahami bahwa dirinya juga memiliki batas yang perlu dihargai
Sebelumnya, Anisa merasa harus bisa membuat orang lain senang agar tetap diterima. Ada kekhawatiran bahwa ketika dirinya tidak mampu memenuhi harapan orang lain, ia akan ditinggalkan.
Perasaan tersebut membuat keputusan sederhana menjadi tidak sesederhana kelihatannya. Menolak sesuatu dapat disertai pertanyaan mengenai bagaimana orang lain akan memandang dirinya setelah itu.
Pada akhirnya, Anisa mulai mempertanyakan kembali pola tersebut. Ia belajar bahwa menjaga hubungan tidak selalu berarti mengorbankan diri sendiri.
“Apa salahnya kalau saya mementingkan diri saya sendiri dulu dibanding orang lain,” katanya.
Kalimat tersebut menjadi bagian dari cara Anisa melihat dirinya sekarang. Mementingkan diri sendiri baginya bukan berarti mengabaikan orang lain, melainkan memberikan ruang untuk mempertimbangkan apa yang memang dibutuhkan dirinya.
Persoalan mengenai batas diri juga berkaitan dengan cara seseorang berkomunikasi. Lailia Rahmadanti, lulusan Psikologi Universitas Negeri Malang, mengatakan bahwa dalam kondisi tertentu seseorang tidak selalu membutuhkan nasihat ketika sedang menghadapi masalah.
Ada kalanya seseorang hanya ingin didengarkan.
“Kadang mereka cuma pengin didengar aja tanpa mau adanya feedback, tanpa mau adanya saran,” ujar Lailia.
Menurut Lailia, keinginan untuk bercerita tidak selalu muncul karena seseorang sedang mencari solusi. Ada orang yang membutuhkan tempat untuk menyampaikan apa yang dirasakan tanpa langsung mendapatkan penilaian atau tanggapan.
Hal tersebut membuat respons dari orang sekitar menjadi penting. Nasihat yang sebenarnya dimaksudkan untuk membantu belum tentu menjadi hal pertama yang dibutuhkan seseorang.
Bagi orang yang sedang berada dalam tekanan, kesempatan untuk menyampaikan perasaan saja dapat menjadi bagian dari proses memahami apa yang sedang dialami.
Anisa sendiri melewati proses yang membuatnya perlahan lebih memperhatikan kebutuhan pribadi. Ia tidak lagi melihat dirinya hanya dari seberapa jauh dapat memenuhi keinginan orang lain.
Perubahan itu juga tidak muncul dalam satu keputusan besar. Ia tumbuh dari cara Anisa memandang dirinya sendiri setelah melewati pengalaman yang tidak mudah.
Belajar mengatakan “tidak” akhirnya menjadi salah satu bentuk penghargaan terhadap diri sendiri. Bukan karena semua permintaan orang lain harus ditolak, tetapi karena ada saat ketika seseorang perlu menentukan batas sebelum kembali memberikan sesuatu kepada orang lain.
Bagi Anisa, batas itu menjadi pengingat bahwa menjaga diri bukan tindakan egois. Ada kebutuhan pribadi yang juga layak dipertimbangkan, bahkan ketika keputusan tersebut mungkin tidak selalu menyenangkan semua orang.
Di sisi lain, Lailia melihat pentingnya lingkungan yang mampu memberi ruang tanpa terburu-buru memberikan penilaian. Ketika seseorang merasa aman untuk bercerita, ia memiliki kesempatan untuk mengenali apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
Pada akhirnya, mengatakan “tidak” bukan hanya perkara dua kata. Bagi Anisa, di baliknya ada proses panjang untuk berhenti merasa bersalah ketika memilih dirinya sendiri.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.
Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka
+62 851-7213-0182
diantarakudankamudanhati@gmail.com
Malang, East Java, Indonesia
Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA