Berjuang Menghadapi Badai Emosi: Kisah Perjalanan Memulihkan Diri dari Luka Mental dan Tindakan Self Harm

MALANG — Rasa sakit emosional yang meluap dan terpendam terlalu lama sering kali menjadi beban berat yang sangat sulit dipikul seorang diri. Bagi sebagian orang, ketidakmampuan untuk menyalurkan beban pikiran tersebut dapat memicu tekanan mental hebat yang berujung pada tindakan merusak diri sendiri (self harm).

Fenomena kelam inilah yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup Sarwendadiana Putri Jafar, seorang mahasiswa berusia 21 tahun yang berasal dari Pasuruan.
Mengingat kembali rekam jejak perjalanan kehidupannya, Sarwenda diana mengungkapkan bahwa kebiasaan memendam masalah sudah ia lakukan sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Ketika tekanan emosional mendalam datang menghampiri tanpa ada ruang untuk bercerita, respons fisik berupa rasa sesak hebat di dada kerap kali menjadi hal yang tak tertahankan baginya.

“Setiap kali aku ada masalah, aku selalu menangis dan dadaku itu benar-benar sesak dan sakit banget. Salah satu cara untuk melampiaskan dan membuat dadaku tidak sakit lagi yaitu dengan cara aku menyakiti diri aku sendiri,” ungkap Sarwenda diana

Bagi Sarwendadiana pada masa-masa itu, tindakan menyakiti diri menjadi sebuah mekanisme pelarian sesaat. Ia merasa bahwa rasa sakit fisik yang ditimbulkan dari tindakan tersebut sanggup mengalihkan rasa sakit emosional yang menghimpit dadanya. Kendati disadari sebagai bentuk pelampiasan yang tidak sehat, dorongan tersebut terus berulang karena ketidaktahuannya dalam mengelola emosi yang membendung.

Kebutuhan Dasar akan Empati, Pelukan, dan Validasi

Di balik dorongan kuat untuk merusak diri saat berada di puncak fase tertekan, Sarwendadiana menegaskan bahwa seseorang yang sedang mengalami krisis mental sebenarnya tidak membutuhkan amarah, penilaian negatif, atau ceramah dari orang-orang di sekitarnya. Sebaliknya, hal paling mendasar yang sangat dibutuhkan adalah ruang aman untuk didengarkan, diterima, serta ditenangkan.


Ia menyampaikan bahwa dalam situasi krisis emosional, kehadiran fisik dan dukungan moral jauh lebih berharga ketimbang nasihat yang menggurui. Sebuah pelukan hangat dan pengakuan bahwa dirinya dikasihi serta dihargai menjadi ‘obat’ paling ampuh untuk meredakan kepanikan jiwa.

“Sebenarnya aku itu tidak ingin menyakiti diri sendiri. Aku itu lebih butuh pelukan, butuh validasi kalau aku itu disayang. Ketika aku lagi tertekan atau terpicu masalah, aku cuma butuh didengar dan dipeluk. Itu salah satu hal yang bikin aku merasa tenang dan tahu kalau aku ternyata disayang,” jelasnya.

Beruntung, kesadaran untuk memutus rantai perilaku berbahaya ini perlahan mulai tumbuh. Dalam beberapa bulan terakhir, Sarwendadiana telah berhasil menghentikan kebiasaan menyakiti diri sendiri. Proses pemulihan ini tidak lepas dari hadirnya sosok-sosok yang peduli pada saat-saat paling kritis dalam hidupnya.

Bertahan dan Bangkit Melintasi Masa Kelam

Perjuangan untuk keluar dan pulih dari ketimpangan emosional tentu bukanlah sebuah proses yang instan maupun mudah. Ketika pikiran dipenuhi oleh kecemasan berlebih dan pemicu masalah datang bertubi tubi, seseorang bisa berada dalam kondisi yang sangat bingung dan kehilangan kendali atas pikirannya sendiri.

Kendati demikian, Sarwendadiana memberikan pesan yang sangat kuat bagi siapa saja yang mungkin saat ini sedang berada di fase kelam yang sama. Ia mengimbau agar mereka tidak pernah mengambil keputusan ekstrem untuk mengakhiri hidup, sebab seberat apa pun masalah yang dihadapi, harapan untuk pulih itu selalu ada.  Ia menekankan bahwa ketimbang melakukan tindakan berbahaya atau mengakhiri hidup, ada banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk bertahan. Mengalihkan perhatian melalui aktivitas sederhana seperti berjalan-jalan menghirup udara segar, menikmati makanan favorit, atau membiarkan diri menangis sepuasnya jauh lebih aman untuk dilakukan.

“Buat kalian yang lagi di fase yang sama kayak aku, tidak apa-apa, jalani dan hadapi semuanya meskipun itu rasanya sakit banget. Tapi tolong jangan sampai kalian mengakhiri hidup kalian. Nikmati dan jalani saja selagi kalian bisa, pasti bisa kok melaluinya,” tegasnya memberikan semangat.

Di akhir perbincangan, ia meyakini bahwa setiap orang yang berhasil bertahan dan melangkah keluar dari fase terkelam dalam hidupnya adalah pribadi yang luar biasa kuat dan hebat. Proses penyembuhan luka mental memang membutuhkan waktu serta keberanian besar, namun dengan hadirnya kepedulian dari lingkungan sekitar dan tekad untuk terus bertahan, setiap individu berhak untuk kembali merasakan arti kehidupan yang sesungguhnya secara utuh.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA