Beruntung bagi kita, berharga bagi mereka : Menuntaskan FGD sekelompok remaja sebaya

MALANG — Hai, Antares. Menurutmu cara empati paling benar itu bagaimana? Di sini kita akan membahas lebih dalam. 

Pada tanggal 26 September hari sabtu sedang dilaksanakan sebuah FGD (Forum Group Discussion ) di tempat Oostereo, Malang. FGD ini beranggotakan teman sebaya dari umur 20 hingga 22 tahun. Terdiri dari Dira (20), Ella (20), Fany (21), Nana (20), dan Karina (20).

Di tengah tekanan hidup yang semakin berat, tidak semua itu berakhir dengan memilih untuk mengakhiri hidup. Sebagian dari mereka menahan karena rasa takut akan kematian itu sendiri. Pandangan tersebut disampaikan oleh salah satu narasumber, Ella (20). Opininya adalah seseorang yang mengalami tekanan atau stress atau depresi bisa saja memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup namun masih rasa takut akan kematian itu sendiri.

“Kalah semisal mereka masih ada kesadaran dikit sebenarnya mereka tuh juga takut,” Ujar Ella. 

Rasa takut tersebut bukan bukti bahwa persoalan yang dialaminya oleh korban itu adalah isu ringan, malah sebaliknya. Ella menilai kondisi seseorang sedang mengalami tekanan berat sehingga ia tidak dapat tahu menahu mana yang salah atau mana yang benar.  

Karena itu, response dari lingkungan sekitar juga mempengaruhi. Dira (20) menilai bahwa seseorang yang sedang mengalami tekanan tidak membutuhkan nasihat atau penghakiman berat. Mereka justru membutuhkan seseorang yang dapat diandalkan sehingga dapat menciptakan sebuah Trust atau kepercayaan diantara mereka. 

Ella (20) juga beropini, ketika seseorang sedang di fase emosional tidak stabil, mereka perlu sandaran. Atau singkatnya ruang bagi mereka untuk berekspresikan emosi mereka dengan bebas tanpa ada judgment. Salah satunya adalah beraktivitas dengan teman dekat. Hal sekecil seperti itu bisa saja menyelamatkan orang hingga bisa melihat esok hari. 

“It’s ok to not be ok.” 

Adanya kalimat tersebut menjadi sebuah bukti bahwa memiliki keberatan dalam hati bukanlah kelemahan. Malah, itu juga bisa menjadi langkah awal agar mereka tidak seharusnya melawan itu dengan diri mereka sendiri. 

Lanjutnya FGD tersebut, mereka juga mengambil dari aspek perhatian agama. Dira (20) berpendapat bahwa ketika seseorang depresi dan memiliki niatan untuk bunuh diri dan sosok lain bilang bahwa itu dilarang karena dosa dan bisa masuk neraka bukanlah pendekatan yang baik. Menurutnya, kalimat seperti malah menambah pikiran orang yang sedang dalam kondisi emosional non-stabil. 

Ia justru mengajarkan agar sisi positif dari agama disampaikan dengan memberikan keyakinan bahwa seseorang bisa disayangi dan masih memiliki banyak alasan untuk bertahan. 

Pada akhirnya, rasa takut terhadap kematian itu hanyalah salah satu alasan yang disebut dalam diskusi itu. Tidak semua orang memiliki pengalaman dan alasan yang sama ketika menghadap tekanan. Ada yang dengan cara hangout dengan teman, ada yang memutuskan untuk refreshing, dan ada yang memutuskan untuk beristirahat sejenak di kasur. 

Poin utama dari diskusi ini adalah adanya sosok sandaran bagi kita semua di masa-masa kelam. Tidak semua harus diurus sendiri. Sebab, sesuatu yang terlintas dalam benak kita bisa jadi belum kita pikirkan secara matang dan hanya butuh pelarian dari kesakitan yang dirasakan. Maka dari itu, kita bisa mulai menjadi sosok sandaran tersebut. Bisa saja hal sederhana seperti ini itu sangat berharga bagi dirinya. Membuat memori baru hingga ia memiliki alasan untuk bertahan hingga saat ini atau sekedar keyakinan bahwa masih ada hari berikutnya yang layak kita jalani. 

Bagi kita mungkin tidak seberapa yang bisa kita kasih, namun bagi mereka sudah lebih dari cukup.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA