Dari Sepiring Makanan Hingga Selembar Gambar

MALANG — Anisa Iskandar pernah duduk di depan sepiring makanan tanpa tahu harus berbuat apa. Ia melihat makanan itu, tetapi tidak sanggup menyentuhnya. Air mata justru lebih dulu jatuh.

Saat itu Anisa mengira masalahnya hanya soal lambung. Ia memang memiliki GERD, sehingga sulit makan terasa seperti sesuatu yang masih masuk akal. Namun, ketika sakit lambungnya mulai mereda, satu hal tidak ikut membaik: keinginannya untuk makan tetap hilang.

Dari situ Anisa mulai bertanya-tanya. Kalau lambungnya sudah tidak terlalu bermasalah, mengapa dirinya masih tidak mampu makan?

Pertanyaan itu akhirnya membawanya berkonsultasi dengan psikiater. Dari konsultasi tersebut, ia mulai memahami bahwa apa yang dialaminya tidak berhenti pada persoalan fisik. Ia juga sedang berhadapan dengan kondisi mental yang sebelumnya tidak ia sadari.

Ada masa ketika Anisa menganggap kesedihan yang berlangsung lama sebagai hal biasa. Ia baru menyadari bahwa perasaan yang terus menetap ternyata bisa menjadi bagian dari kondisi mental yang perlu diperhatikan.

Namun mengetahui apa yang terjadi pada diri sendiri tidak otomatis membuat semuanya menjadi ringan.

Kegelisahan masih datang. Ada hari ketika perasaan itu sulit dikendalikan. Dan pada saat-saat seperti itu, Anisa punya satu cara yang terasa dekat dengannya: mengambil alat gambar, menulis, atau mewarnai.

Gambar yang Awalnya Cuma Pengusir Bosan

Sebelum mengalami masa sulit tersebut, aktivitas seni bagi Anisa tidak memiliki arti khusus.

Ia menggambar, menulis, atau mewarnai hanya karena bosan. Sekadar mencari kegiatan untuk melewati hari.

Tidak ada tujuan besar di baliknya.

Sekarang ceritanya berbeda.

Ketika kegelisahan muncul dan sulit dikendalikan, Anisa menggunakan aktivitas-aktivitas tersebut untuk mengalihkan perhatiannya. Ia tahu perasaan itu tidak mungkin hilang dalam sekejap. Karena itu, ia mencoba membawa pikirannya ke sesuatu yang ia sukai.

“Sekarang kayak oh ini tuh membantu banget loh buat saya,” ujar Anisa.

Bukan berarti setelah menggambar semuanya langsung selesai. Anisa sendiri tidak mengatakan demikian. Baginya, aktivitas seni lebih seperti jeda. Kegelisahan masih ada, tetapi setidaknya ia bisa sedikit menjauh darinya dan kembali melakukan aktivitas.

Menggambar menjadi salah satu cara Anisa menghadapi rasa yang sulit ia kendalikan.

Begitu pula dengan menulis dan mewarnai.

Hal-hal sederhana yang dulu ia lakukan untuk mengusir bosan kini justru punya tempat tersendiri dalam kesehariannya.

Kalau Perasaan Punya Warna

Ada satu pertanyaan dalam wawancara yang membuat Anisa harus membayangkan kembali masa yang ingin ia tinggalkan.

Bagaimana jika masa itu harus digambarkan tanpa menggunakan kata “depresi” atau “anxiety”?

Jawabannya bukan sebuah cerita panjang.

Anisa memilih warna.

Gelap. Merah. Suram.

Ia membayangkan masa tersebut sebagai sesuatu yang penuh warna gelap karena menurutnya pengalaman itu terlalu berat untuk diulang. Masa ketika ia merasa dirinya aneh dan kehidupannya ikut terganggu.

Pilihan warna itu terasa berbeda dengan bagaimana ia menggunakan aktivitas seni sekarang.

Dulu, gambar hanya teman ketika bosan.

Kini, gambar menjadi tempat untuk mengalihkan kegelisahan.

Ada perasaan yang mungkin sulit diceritakan langsung kepada orang lain, tetapi lebih mudah dituangkan melalui sesuatu yang bisa dibuat sendiri.

Lailia Rahmadanti, lulusan Psikologi Universitas Negeri Malang, mengatakan setiap orang memiliki cara berbeda dalam mengeluarkan emosinya. Ada yang nyaman berbicara, ada pula yang lebih mudah menggunakan gambar atau tulisan.

Menurut Lailia, salah satu alasannya adalah karena ketika seseorang berbicara langsung, ada orang lain yang memberikan respons. Hal itu bisa membuat sebagian orang merasa tertekan atau khawatir ceritanya disalahpahami. Sementara gambar dan tulisan memberi ruang bagi seseorang untuk mengekspresikan dirinya tanpa harus langsung menghadapi respons orang lain.

“Yang penting dia bisa mampu untuk mengekspresikan emosinya dia atau mengeluarkan emosinya dia dengan baik,” kata Lailia.

Bagi Anisa, mungkin memang sesederhana itu.

Tidak selalu harus menjelaskan semuanya.

Kadang cukup mengambil pensil, membuka halaman kosong, lalu membiarkan tangan melakukan sesuatu.

Ada Hal-Hal yang Tidak Bisa Hilang dalam Sekali Duduk

Anisa tidak menganggap aktivitas seni sebagai jalan pintas untuk menghilangkan kegelisahan.

Ia justru sadar bahwa rasa tersebut tidak bisa hilang begitu saja.

Karena itu, tujuannya bukan menghapus perasaan, melainkan membuatnya cukup reda agar ia bisa kembali beraktivitas.

Cara itu mungkin terlihat sederhana jika dilihat dari luar. Hanya menggambar. Hanya menulis. Hanya mewarnai.

Tetapi bagi orang yang sedang berusaha menghadapi pikirannya sendiri, kegiatan kecil semacam itu bisa punya arti berbeda.

Ada waktu yang terisi.

Ada perhatian yang dialihkan.

Ada sesuatu yang bisa dilakukan ketika perasaan sedang sulit dijelaskan.

Dan ada ruang untuk berhenti sebentar.

Belajar Mengatakan “Tidak”

Pengalaman yang dilalui Anisa ternyata tidak hanya mengubah cara ia memandang aktivitas seni.

Ia juga mulai melihat kembali bagaimana selama ini memperlakukan dirinya sendiri.

Sebelumnya, Anisa terbiasa memikirkan kebahagiaan orang lain. Ia kesulitan mengatakan tidak karena takut jika tidak bisa memenuhi keinginan orang lain, dirinya akan ditinggalkan atau ditolak.

Setelah melewati pengalaman tersebut, ia mulai belajar menghargai dirinya sendiri dan berani mengatakan tidak.

Perubahan itu mungkin terdengar sederhana.

Namun bagi seseorang yang sebelumnya terbiasa menempatkan orang lain lebih dulu, mengatakan “tidak” bisa menjadi bentuk perhatian kepada diri sendiri.

Begitu pula dengan menggambar.

Dulu Anisa mengira ia hanya sedang mencari cara untuk mengusir bosan. Belakangan ia sadar bahwa aktivitas itu ternyata bisa menjadi ruang kecil untuk dirinya sendiri.

Ruang ketika ia tidak harus memikirkan bagaimana perasaannya terlihat di mata orang lain.

Ruang ketika ia tidak perlu buru-buru menjelaskan apa yang sedang terjadi.

Cukup menggambar.

Cukup menulis.

Cukup mewarnai.

Tidak Semua Gambar Harus Menjelaskan Sesuatu

Anisa pernah menggambarkan masa sulitnya dengan warna gelap dan merah. Namun hari ini, aktivitas seni tidak lagi hanya berkaitan dengan masa tersebut.

Ada fungsi yang lebih sederhana: membantu dirinya menghadapi kegelisahan yang masih mungkin datang.

Ia tidak sedang mencari cara agar semua perasaan menghilang selamanya. Ia hanya berusaha memberi dirinya kesempatan untuk tetap berjalan ketika perasaan itu muncul.

Mungkin itu alasan mengapa aktivitas yang dulu dianggap tidak penting justru akhirnya punya arti.

Sebuah gambar tidak selalu harus bagus.

Sebuah tulisan tidak harus dibaca orang lain.

Warna tidak harus punya makna yang bisa diterjemahkan.

Kadang, semuanya cukup menjadi tempat untuk menaruh sesuatu yang sedang terlalu penuh di kepala.

Bagi Anisa, gambar yang dulu hanya dibuat untuk menghabiskan waktu kini menjadi semacam ruang kecil untuk bernapas.

Bukan untuk menghapus apa yang pernah terjadi.

Bukan pula untuk berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Hanya sebuah cara agar ketika kegelisahan datang lagi, ia tahu harus melakukan apa.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA