Di Balik Abu yang Terbakar: Saat Mahasiswa Malang Hanya Butuh Didengar, Bukan Dihakimi

MALANG —

Nyala api kecil itu melahap selembar kertas perlahan hingga menyisakan kepulan abu tipis di lantai kamar. Bagi Nadia, seorang mahasiswi di Malang, abu itu menjadi muara terakhir dari tumpukan luka batin yang tak mampu lagi ia sampaikan lewat suara. Ketika hiruk-pikuk perkuliahan kian menghimpit dan telinga di sekitarnya terasa asing, api menjadi cara teraman untuk merilis sesak tanpa takut dihakimi.

“Kalau ada masalah kecil, aku cerita ke orang yang memang aku percaya. Tapi kalau masalah itu sudah terlalu berat dan nggak bisa diceritakan ke siapa-siapa, aku tulis semuanya di kertas lalu kubakar,” tutur Nadia dengan nada tenang.

Bagi kalangan mahasiswa, kesehatan mental bukan persoalan luka fisik yang kasatmata atau berdarah, melainkan tentang jiwa dan pikiran yang sedang kehilangan arah. Namun, keberanian untuk membuka diri kerap terbentur kenyataan pahit. Keinginan untuk didengar sering kali berujung pada kekecewaan ketika lawan bicara justru asyik menatap layar ponsel atau buru-buru membandingkan penderitaan lewat aksi ‘adu nasib’.

“Hal yang bikin aku benar-benar nyaman saat cerita itu sederhana: dia mau menaruh ponselnya, mendengarkan, dan mengerti posisiku di sana. Pas dia mulai nggak menggubris atau malah membanding-bandingkan nasib, rasanya langsung nggak nyaman dan mending nggak jadi cerita,” ungkap Nadia.

Kebutuhan akan validasi emosi ini dipertegas oleh Ersa, seorang lulusan Psikologi. Menurut Ersa, saat seseorang datang untuk meluapkan beban perasaan (venting), hal terpenting yang mereka cari bukanlah rentetan solusi instan, melainkan kehadiran utuh seorang pendengar.

“Tahan refleks kita untuk langsung memberi nasihat. Cobalah gunakan teknik mendengar aktif dan pantulkan emosinya. Tanyakan dulu, ‘Kamu mau aku sekadar dengerin dan nemenin, atau kamu butuh sudut pandang dan solusi?’ Kalimat sederhana seperti ‘Pasti berat banget ya menghadapi situasi kayak gini’ jauh lebih menyembuhkan daripada serbuan saran yang belum tentu mereka butuhkan,” jelas Ersa.

Ersa menambahkan bahwa tatapan mata yang hangat, gestur tubuh yang terbuka, serta keberanian menyampaikan kapasitas diri secara jujur ketika sedang lelah adalah etika penting dalam menjaga ruang bercerita tetap sehat bagi kedua belah pihak.

Menghadirkan ruang aman bagi sesama mahasiswa di kota ini sejatinya tidak menuntut gelar profesional. Cukup dengan menurunkan layar gawai, membuang sikap menghakimi, dan menyediakan telinga yang tulus, kita sudah menyelamatkan seseorang dari rasa sunyi yang selama ini hanya bisa dilarung lewat kobaran api.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA