Memahami Self-Healing: Bukan Sekadar Pelarian, melainkan Proses Pemulihan Diri

MALANG — Fenomena self-healing kini menjadi topik yang hangat diperbincangkan di tengah masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda dan mahasiswa. Istilah ini kerap diidentikkan dengan aktivitas berlibur, belanja, atau sekadar mencari hiburan di tengah tumpukan rutinitas yang melelahkan. Namun, dari kacamata ilmu psikologi, pemahaman umum tersebut kerap kali melenceng dari makna esensial yang sebenarnya.


Sebagai mahasiswa psikologi, Nadiva menegaskan bahwa self healing pada dasarnya merupakan sebuah upaya mandiri yang dilakukan oleh seseorang untuk membantu dirinya sendiri. Proses ini bertujuan untuk menghadapi, memahami, serta memulihkan kondisi emosional yang terguncang setelah mengalami tekanan mental maupun peristiwa traumatis dalam hidup.

"Jadi self-healing itu bukan melupakan sebuah masalah, tapi salah satu proses untuk memahami diri sendiri dan belajar menghadapinya dengan cara yang lebih sehat,"

Menurutnya, pemulihan emosional tidak terjadi secara instan dengan cara lari dari kenyataan. Sebaliknya, proses ini menuntut keberanian seseorang untuk bersikap jujur pada perasaan sendiri, sehingga respon emosional yang timbul saat menghadapi masalah tidak meledak – ledak atau berlebihan.

Efektivitas dan Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari

Apakah self healing mampu membantu seseorang yang sedang berada di bawah tekanan mental?

Nadiva mengungkapkan bahwa metode ini sangat efektif untuk meredakan tingkat stres dan memulihkan kestabilan emosi.

Kendati demikian, masyarakat perlu memahami bahwa self-healing bukanlah solusi universal yang dapat diterapkan pada semua tingkatan masalah psikologis.
Untuk menjaga kesehatan mental dalam skala harian, metode pemulihan diri sebenarnya dapat diintegrasikan melalui aktivitas sederhana yang terjangkau.


Melakukan Hobi yang Disukai: Menjalankan kegiatan positif yang disenangi, seperti berolahraga secara teratur atau menikmati hidangan favorit, berfungsi sebagai sarana penyaluran energi negatif agar beban emosi berlebih dapat berkurang.
Bercerita (Ventilasi Emosi): Membagikan keluh kesah dan beban pikiran kepada teman dekat atau sosok yang tepercaya dapat memberikan rasa lega sekaligus sudut pandang baru dalam memandang masalah.

Perbedaan Antara Self Healing dan Mengalihkan Diri

Salah satu kekeliruan yang paling sering terjadi di masyarakat adalah menyamakan self healing dengan tindakan mengalihkan perhatian. Nadiva memberikan garis batas yang sangat tegas di antara kedua konsep tersebut.


Mengalihkan diri biasanya berupa kegiatan hiburan yang sifatnya hanya sementara waktu. Pola ini bertujuan membuat pikiran lupa sejenak dari akar persoalan tanpa pernah menyelesaikannya. Ketika aktivitas hiburan tersebut selesai, beban masalah dan emosi negatif yang terpendam akan kembali muncul.


Sebaliknya, self healing yang sebenarnya adalah proses aktif di mana seseorang berani berhadapan langsung dengan masalahnya, membedah penyebab rasa sakit tersebut, dan belajar berdamai dengannya secara konstruktif.

Kapan Harus Menghubungi Tenaga Profesional?

Meskipun self healing bermanfaat untuk menjaga kestabilan emosi harian, ada batasan jelas kapan upaya mandiri ini tidak lagi memadai. Masyarakat diimbau untuk tidak terjebak dalam penanganan mandiri (self diagnosis) secara berlebihan ketika kondisi psikologis kian memburuk.

Nadiva menekankan bahwa seseorang mutlak harus segera mencari bantuan dari tenaga profesional, seperti psikolog atau psikiater, ketika tekanan emosional sudah mulai merusak fungsi dan produktivitas hidup sehari-hari.

Sinyal bahaya tersebut dapat terlihat dari terganggunya jam tidur, hilangnya nafsu makan, penurunan konsentrasi belajar yang drastis, hingga merosotnya prestasi akademik seperti nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK). “Jika dirasa situasi sudah sangat berat dan mengganggu kehidupan sehari-hari, segera konsultasikan ke tenaga profesional. Namun, jika dampaknya belum terlalu berat, kita bisa memulainya dengan bercerita kepada orang yang dipercaya,” tutupnya.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA