MALANG — Dari luar, hidup mereka tampak baik-baik saja. Nilai kuliah bagus, pekerjaan berjalan lancar, pertemanan tetap ada, dan media sosial dipenuhi momen-momen menyenangkan. Namun ketika malam tiba dan kesibukan mulai berhenti, muncul perasaan yang sulit dijelaskan: kosong.
Fenomena ini semakin banyak dirasakan oleh generasi muda. Tidak sedikit orang yang merasa hidupnya berjalan normal, tetapi tetap merasakan kehampaan yang membuat mereka sulit menikmati apa yang sudah dimiliki. Perasaan tersebut sering memunculkan pertanyaan,
“Kenapa aku masih merasa seperti ini padahal semuanya baik-baik saja?”
Kondisi ini menunjukkan bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir hanya karena seseorang memiliki pencapaian atau kehidupan yang terlihat ideal.
Banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa kebahagiaan akan datang setelah mencapai tujuan tertentu. Lulus kuliah, mendapatkan pekerjaan, memiliki penghasilan tetap, atau mencapai target pribadi sering dianggap sebagai titik di mana seseorang akhirnya akan merasa puas.
Namun kenyataannya tidak selalu demikian. Setelah satu tujuan tercapai, sering kali muncul tujuan baru yang harus dikejar. Siklus ini terus berulang hingga seseorang lebih sibuk mengejar pencapaian berikutnya daripada menikmati apa yang telah berhasil diraih.
Akibatnya, rasa puas hanya bertahan sebentar sebelum kembali digantikan oleh keinginan untuk mencapai hal lain.
Di era digital, seseorang terus-menerus menerima informasi tentang kehidupan orang lain. Setiap hari media sosial menampilkan pencapaian, perjalanan, hubungan, hingga kesuksesan yang tampak sempurna. Tanpa disadari, hal tersebut membuat seseorang terus bergerak tanpa sempat berhenti untuk memahami dirinya sendiri.
Banyak orang mengetahui apa yang sedang tren, mengetahui kehidupan orang lain, tetapi tidak benar-benar memahami apa yang sebenarnya mereka butuhkan untuk merasa bahagia. Ketika hidup terlalu fokus pada target dan pencapaian, ruang untuk mengenali diri sendiri menjadi semakin sempit.
Perasaan kosong sering kali tidak terlihat dari luar. Seseorang tetap bisa tertawa, bekerja, belajar, dan menjalani aktivitas seperti biasa.
Namun di dalam dirinya, ada perasaan bahwa sesuatu sedang hilang.
Sebagian orang menggambarkannya sebagai kehilangan semangat. Sebagian lainnya merasa hidup berjalan secara otomatis tanpa benar-benar dinikmati. Ada pula yang merasa tidak memiliki tujuan yang jelas meskipun aktivitasnya padat setiap hari.
Karena tidak terlihat secara fisik, kondisi ini sering diabaikan atau dianggap tidak penting.
Padahal jika terus berlangsung, kehampaan dapat memengaruhi kesehatan mental dan kualitas hidup seseorang.
Mengatasi kehampaan bukan berarti harus mengubah seluruh kehidupan secara drastis. Prosesnya sering dimulai dari hal-hal sederhana, seperti memberi waktu untuk refleksi diri, mengenali emosi yang dirasakan, dan memahami apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri.
Menulis jurnal, melakukan aktivitas yang bermakna, mengurangi perbandingan sosial, atau berbicara dengan orang yang dipercaya dapat membantu seseorang memahami dirinya dengan lebih baik. Terkadang, yang dibutuhkan bukan lebih banyak pencapaian, melainkan hubungan yang lebih dalam dengan diri sendiri.
Pada akhirnya, kehidupan yang terlihat baik dari luar belum tentu membuat seseorang merasa baik di dalam. Kebahagiaan tidak selalu berasal dari pencapaian besar, melainkan dari kemampuan untuk menemukan makna dalam kehidupan sehari-hari. Karena manusia bukan hanya membutuhkan kesuksesan, tetapi juga kebutuhan untuk merasa terhubung, dipahami, dan memiliki tujuan.
“Tidak semua kehampaan berasal dari kurangnya sesuatu. Terkadang, kehampaan muncul ketika kita terlalu sibuk mengejar banyak hal hingga lupa memahami diri sendiri.”
Dan mungkin, jawaban dari rasa kosong itu bukan terletak pada apa yang harus ditambahkan ke dalam hidup, melainkan pada apa yang perlu dipahami lebih dalam tentang diri kita sendiri.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.