MALANG — Kalimat seperti “jangan sedih”, “tetap semangat”, “ambil sisi positifnya”, atau “masih banyak yang lebih susah dari kamu” sering dianggap sebagai bentuk dukungan. Namun dalam beberapa situasi, respons semacam itu justru dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami. Fenomena ini dikenal sebagai toxic positivity, yaitu kondisi ketika seseorang dipaksa untuk selalu berpikir positif hingga mengabaikan emosi yang sebenarnya sedang dirasakan.
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah toxic positivity semakin sering dibahas dalam isu kesehatan mental. Fenomena ini muncul seiring berkembangnya berbagai konten motivasi yang mendorong seseorang untuk selalu kuat, optimis, dan bahagia dalam setiap keadaan. Meski memiliki niat baik, pendekatan tersebut tidak selalu memberikan dampak positif.
Sebab pada kenyataannya, manusia tidak mungkin merasa bahagia sepanjang waktu.
Setiap orang pasti mengalami masa sulit dalam hidupnya. Kehilangan orang yang dicintai, kegagalan akademik, konflik keluarga, masalah keuangan, hingga tekanan pekerjaan merupakan bagian dari pengalaman manusia yang tidak dapat dihindari.
Namun, di tengah budaya yang mengagungkan optimisme, banyak orang mulai merasa bahwa sedih adalah sesuatu yang salah. Mereka berpikir bahwa kesedihan harus segera dihilangkan dan digantikan dengan pikiran positif.
Akibatnya, seseorang tidak lagi memberi ruang bagi dirinya untuk merasakan emosi yang sebenarnya wajar muncul dalam situasi tertentu.
Padahal, kesedihan bukanlah musuh yang harus dilawan. Kesedihan adalah respons alami terhadap pengalaman yang menyakitkan.
Banyak orang percaya bahwa berpikir positif dapat menyelesaikan semua masalah. Padahal, kesehatan mental yang baik bukan berarti menghilangkan emosi negatif, melainkan memahami dan mengelolanya dengan sehat.
Ketika seseorang terus memaksa dirinya untuk terlihat baik-baik saja, emosi yang dipendam tidak akan hilang begitu saja. Sebaliknya, emosi tersebut dapat menumpuk dan muncul dalam bentuk lain, seperti stres berkepanjangan, kecemasan, atau kelelahan emosional.
Misalnya, seseorang yang baru kehilangan anggota keluarga tentu membutuhkan waktu untuk berduka. Memberinya ruang untuk merasakan kesedihan sering kali lebih membantu daripada memaksanya untuk segera bangkit dan berpikir positif.
Proses menerima emosi merupakan bagian penting dari pemulihan.
Media sosial menjadi salah satu faktor yang memperkuat fenomena ini. Berbagai kutipan motivasi dan konten inspiratif sering menyampaikan pesan bahwa seseorang harus tetap kuat apa pun yang terjadi.
Meski bertujuan memberikan semangat, pesan tersebut terkadang menciptakan tekanan baru. Orang yang sedang mengalami kesulitan merasa harus selalu tersenyum dan terlihat bahagia agar dianggap mampu menghadapi hidup.
Akibatnya, banyak individu menyembunyikan perasaan sebenarnya karena takut dianggap negatif atau terlalu sensitif.
Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang semakin jauh dari pemahaman terhadap emosinya sendiri.
Salah satu hal yang sering hilang dalam fenomena toxic positivity adalah validasi emosi. Validasi berarti mengakui bahwa apa yang dirasakan seseorang adalah nyata dan wajar untuk dirasakan.
Ketika seorang teman mengatakan bahwa ia sedang lelah atau sedih, terkadang respons terbaik bukanlah memberikan solusi atau motivasi. Mendengarkan dan menunjukkan empati sering kali jauh lebih berarti.
Kalimat seperti “aku mengerti ini pasti berat untukmu” atau “tidak apa-apa kalau kamu sedang merasa sedih” dapat membuat seseorang merasa lebih diterima.
Validasi tidak berarti memperbesar masalah. Validasi hanya memberikan ruang bagi seseorang untuk merasakan emosinya tanpa merasa dihakimi.
Salah satu kesalahpahaman terbesar mengenai kesehatan mental adalah anggapan bahwa orang yang sehat secara mental harus selalu positif dan bahagia.
Padahal, kesehatan mental justru terlihat dari kemampuan seseorang menerima berbagai emosi yang muncul dalam hidupnya. Ada saat untuk tertawa, tetapi ada juga saat untuk menangis. Ada masa ketika seseorang merasa kuat, tetapi ada pula waktu ketika ia membutuhkan bantuan.
Semua emosi tersebut merupakan bagian dari pengalaman manusia yang normal.
Menjadi sehat secara mental bukan berarti tidak pernah merasa sedih. Menjadi sehat secara mental berarti mampu menghadapi kesedihan tanpa kehilangan harapan.
Pada akhirnya, hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Akan ada kegagalan, kehilangan, kekecewaan, dan berbagai pengalaman yang memunculkan emosi negatif.
Daripada terus memaksa diri untuk selalu terlihat baik-baik saja, mungkin yang lebih penting adalah belajar menerima bahwa tidak apa-apa jika sesekali merasa lelah, kecewa, atau sedih.
Karena menjadi manusia bukan berarti selalu kuat. Menjadi manusia berarti mampu merasakan seluruh emosi yang hadir dalam kehidupan, lalu belajar bertumbuh darinya.
Dan terkadang, langkah pertama menuju kesehatan mental yang lebih baik bukanlah berpikir positif, melainkan memberi diri sendiri izin untuk merasakan apa yang sebenarnya sedang dirasakan.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.