Ketika Kesehatan Mental Makin Terbuka di Kalangan Gen Z

MALANG — Ersa, mahasiswa psikologi, melihat bahwa Generasi Z saat ini memandang kesehatan mental dengan lebih terbuka dan adaptif dibandingkan generasi sebelumnya. Menurutnya, kesehatan mental tidak lagi dipandang sebagai tanda kelemahan, tetapi sebagai bagian dari kesejahteraan hidup. Keterbukaan tersebut membuat Gen Z lebih peka terhadap perasaan diri dan berani menyuarakan berbagai isu kesehatan mental. Namun, Ersa juga melihat adanya tantangan dari tingginya paparan informasi di media sosial. berjalan sesuai skenario yang telah dibuat.

Kesadaran terhadap kesehatan mental

Menurut Ersa, keterbukaan Gen Z terhadap kesehatan mental memiliki sisi positif. Kesadaran yang tinggi membuat Gen Z lebih peka terhadap perasaan diri dan berani memvalidasi emosi yang dirasakan. Mereka juga tidak ragu menyuarakan isu seperti burnout, anxiety, maupun toxic environment. Hal tersebut menjadi bagian dari cara Gen Z memandang kesehatan mental sebagai bagian dari kesejahteraan hidup.

Paparan informasi di media sosial

Di balik keterbukaan tersebut, Ersa melihat adanya tantangan dari tingginya paparan informasi di media sosial. Berbagai informasi mengenai kesehatan mental dapat ditemukan dengan mudah melalui konten yang dikonsumsi sehari-hari. Menurut Ersa, kondisi tersebut dapat memicu kecenderungan self-diagnosis, yaitu mendiagnosis diri berdasarkan informasi yang ditemukan tanpa konfirmasi dari profesional. Karena itu, keterbukaan terhadap informasi kesehatan mental juga perlu disertai pemahaman mengenai batas diagnosis.

Ketika self-diagnosis menjadi persoalan

Ersa menekankan bahwa diagnosis harus mendapatkan bimbingan dari profesional. Menurutnya, seseorang tidak seharusnya langsung menentukan kondisi dirinya hanya berdasarkan informasi yang ditemukan. Ia juga mengingatkan bahwa menjadi bagian dari Gen Z dan memiliki pengetahuan mengenai kesehatan mental bukan berarti seseorang dapat melakukan diagnosis sendiri tanpa bantuan profesional. Bagi Ersa, proses tersebut tetap membutuhkan bimbingan yang tepat.

Teman sebagai tempat bercerita

Selain membahas self-diagnosis, Ersa menjelaskan mengenai hal yang membuat seseorang merasa aman untuk menceritakan masalah pribadi kepada orang lain. Menurutnya, teman sebaya dapat menjadi tempat bercerita ketika hubungan yang terjalin sudah dekat dan erat. Empati, kepercayaan, kerahasiaan, serta tidak adanya penghakiman menjadi bagian dari rasa aman tersebut. Kehadiran teman juga menjadi hal yang dibutuhkan ketika seseorang ingin menyampaikan ceritanya.

Kemudahan akses membuat teman dipilih

Menurut Ersa, seseorang terkadang lebih memilih bercerita kepada teman dibandingkan mencari bantuan profesional karena faktor kemudahan akses. Bantuan profesional membutuhkan proses seperti membuat janji untuk bertemu dan juga berkaitan dengan biaya. Sementara itu, teman sudah berada dalam lingkungan yang dekat dan lebih mudah ditemui. Selain itu, seseorang juga dapat merasa memiliki pengalaman yang sama dengan teman yang menjadi tempat bercerita.

Tidak semua cerita membutuhkan solusi

Ketika seseorang datang kepada teman hanya untuk meluapkan perasaan, Ersa menyarankan pendengar menerapkan active listening. Salah satu caranya adalah menggunakan reflective listening, yaitu memantulkan emosi dan isi cerita untuk menunjukkan pemahaman. Pendengar juga sebaiknya tidak langsung memberikan saran, tetapi dapat bertanya apakah orang tersebut hanya ingin didengarkan dan ditemani atau membutuhkan sudut pandang maupun solusi. Dengan cara tersebut, pendengar dapat menyesuaikan respons dengan kebutuhan orang yang sedang bercerita.

Mendengarkan juga membutuhkan batas

Ersa menjelaskan bahwa kontak mata dan bahasa tubuh yang hangat dapat diberikan ketika seseorang sedang mendengarkan cerita. Namun, pendengar juga perlu memperhatikan kapasitas emosional dirinya sendiri. Jika kapasitas sedang penuh, seseorang dapat mengatakan bahwa dirinya peduli tetapi membutuhkan waktu sebelum dapat mendengarkan secara utuh. Batas tersebut tetap perlu diperhatikan ketika seseorang memberikan ruang bagi orang lain untuk bercerita.

Keterbukaan Gen Z terhadap kesehatan mental memiliki sisi positif sekaligus tantangan. Di satu sisi, Gen Z lebih peka terhadap perasaan diri dan berani menyuarakan berbagai isu kesehatan mental. Di sisi lain, tingginya paparan informasi di media sosial dapat memicu kecenderungan self-diagnosis tanpa konfirmasi dari profesional. Dalam hubungan pertemanan, rasa aman untuk bercerita juga berkaitan dengan kedekatan, empati, kepercayaan, kerahasiaan, dan kesediaan untuk mendengarkan tanpa penghakiman.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA