MALANG — Ruang kreatif yang hangat bukan tercipta dari megahnya tata cahaya panggung atau deretan karya mahal yang berjarak dari realitas sekitar. Ruang yang bernyawa lahir ketika pintu dibuka selebar-lebarnya untuk siapa saja: menghargai keberagaman, merawat tradisi leluhur, serta memberi panggung setara bagi mereka yang kerap tersisih dari riuhnya panggung seni arus utama.
Suasana inklusif itulah yang tampak hidup selama tiga hari gelaran Mini Fest Wastra dan Seni di Pinoa Creative Space, Jalan Soekarno-Hatta, Malang. Di tengah momen rebranding tempat tersebut, seni hadir bukan sekadar sebagai pajangan estetika, melainkan sebagai simpul yang merajut benang-benang kolaborasi lintas generasi dan lintas batas sosial.
Komitmen inklusivitas acara ini ditunjukkan sejak awal pembukaan pada Jumat (18/9). Alih-alih diresmikan dengan seremoni elitis, perhelatan dimulai bersama teman-teman disabilitas dari Yayasan Anak Bangsa.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa ruang seni harus menjadi ruang aman yang menerima siapa pun tanpa prasangka maupun penghakiman. Di hari pertama itu pula, tabuhan musik etnik mengalun harmonis mengiringi goresan kanvas pertunjukan langsung (live painting) dari dua seniman, Arik Art dan Anang Nofyanto.
Pinoa dan Cell Art Space membuktikan bahwa seni rupa mampu berbicara dalam bahasa universal yang menembus sekat fisik dan perbedaan latar belakang.
Di sudut-sudut ruangan, perhatian pengunjung tak hanya terpaku pada lukisan cat minyak dan akrilik kontemporer. Lembaran kain batik tradisional menggantung anggun, menghadirkan nuansa teduh dan membumi di tengah atmosfer modern kedai kopi anak muda.
Bagi Mas Santos, inisiator festival sekaligus Art Director Cell Art Space, memadukan wastra ke dalam gelaran seni anak muda adalah langkah sadar untuk merawat akar budaya.
“Batik itu sendiri pada dasarnya adalah karya seni. Konsep yang kami bangun ini adalah Mini Festival Wastra. Skalanya memang mini festival dulu, tidak perlu langsung megah, tapi pesannya sampai. Kami ingin anak-anak muda menyadari bahwa tradisi wastra lokal punya nilai seni yang luar biasa dekat dengan keseharian kita,” jelas Santos.
Pada hari kedua festival, narasi pelestarian ini diperkuat melalui sesi diskusi santai bersama Asosiasi Batik yang dirangkai dengan jalan pagi dan kegiatan komunitas fotografi (foodies). Siangnya hingga malam hari, panggung hiburan diisi harmonisasi lintas medium: dari musik etnik tradisional, pertunjukan komedi tunggal (stand-up comedy), hingga syahdunya irama musik keroncong.
Selain pertunjukan budaya, festival ini juga menjadi rumah bagi para perajin dan jenama independen lokal. Deretan stan dari mahasiswa BINUS, jenama lokal seperti Lunko, Suddenly, Panacraft, Hamparan Rinte, Batik Blimbing, Madukara, hingga Naturel Parfum diberi ruang untuk memamerkan dan menjual karyanya secara langsung ke publik.
Andrian, perwakilan tim pemasaran Pinoa, menuturkan bahwa keterbukaan ruang ini adalah visi utama mereka ke depan.
“Slogan Pinoa adalah creative space. Kami sangat terbuka bagi semua kolaborator. Acara kami tidak melulu seni rupa; kalau teman-teman komunitas lari mau bikin titik kumpul kegiatan kebugaran (wellness), komunitas musik, atau teman-teman kampus lain mau bikin agenda bersama, pintu kami selalu terbuka tanpa perlu sungkan,” kata Andrian.
Dari tawa teman-teman disabilitas Yayasan Anak Bangsa, canting malam para pembatik lokal, celoteh komika di panggung keroncong, hingga aroma wewangian botol parfum yang dilukis mahasiswa, festival ini membuktikan sebuah esensi penting: seni adalah jembatan empati.
Di ruang yang inklusif, tidak ada suara yang terlalu lirih untuk didengar dan tidak ada kisah yang terlalu sederhana untuk dihargai. Kolaborasi ini menjadi secercah harapan baru bagi Kota Malang, bahwa di antara ragam perbedaan dan hiruk-pikuk kehidupan, selalu ada tempat untuk saling merangkul, saling memulihkan, dan merawat kebersamaan apa adanya.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.
Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka
+62 851-7213-0182
diantarakudankamudanhati@gmail.com
Malang, East Java, Indonesia
Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA