MALANG — Denis pernah merasa risih ketika melihat barang yang tidak tertata. Ada benda yang menurutnya seharusnya berada di tempat tertentu, tetapi justru diletakkan di posisi lain. Melihat kondisi seperti itu, ia bisa merasa janggal dan muncul keinginan untuk membenarkannya.
Meski begitu, Denis tidak merasa harus selalu langsung merapikan benda tersebut. Ketika kamar dalam keadaan berantakan pun, ia masih bisa membiarkannya.
“Jujur kalau aku ngelihat barang yang nggak tertata juga ngerasa agak risih,” ujar Denis, mahasiswa semester lima Teknik Sipil.
Pengalaman sederhana itu membuat Denis tidak langsung menghubungkan rasa risih dengan OCD. Baginya, merasa terganggu karena sesuatu tidak rapi belum cukup untuk mengatakan bahwa seseorang mengalami kondisi tersebut.
Saat mendengar kata OCD, Denis lebih dulu mengenalnya sebagai sesuatu yang berkaitan dengan perilaku terlalu perfeksionis. Pemahaman seperti itu cukup umum ia temui dalam percakapan sehari-hari.
Istilah OCD sendiri memang dapat muncul ketika seseorang melihat orang lain yang sangat memperhatikan kerapian atau keteraturan. Bagi Denis, pemahaman tersebut membuat batas antara kebiasaan sehari-hari dan istilah kesehatan mental terasa mudah tercampur.
Ia pun tidak mau menyebut dirinya mengalami OCD hanya karena merasa janggal melihat barang yang tidak tertata.
“Aku nggak bisa bilang itu aku kena OCD juga kan,” katanya.
Pengalaman Denis berbeda dengan Muhammad Hanif Zidan, mahasiswa Psikologi yang sejak kelas satu SMA terbiasa melakukan pengecekan ulang terhadap sejumlah benda.
Zidan pernah kembali memastikan kunci stang motor, pintu kamar, hingga kabel pengisi daya ponselnya. Ia juga sering membenarkan benda yang menurutnya kurang sejajar.
Kebiasaan itu bahkan pernah membuatnya terlambat mengikuti kegiatan sekitar tiga sampai empat menit. Setelah mempelajari Psikologi di bangku kuliah, Zidan mulai mempertanyakan apakah perilaku yang dialaminya memiliki kaitan dengan gejala OCD.
Meski demikian, ia tidak langsung menyebut dirinya sebagai pengidap OCD. Zidan belum pernah memeriksakan diri kepada psikolog maupun psikiater.
“Saya tidak bisa bilang diri saya OCD dengan bukti 100%, karena bisa jadi itu cuma kebiasaan saya,” ujar Zidan.
Bagi Denis, persoalan OCD tidak hanya soal bagaimana mahasiswa memahami istilah tersebut. Cara lingkungan merespons pembicaraan mengenai kesehatan mental juga menjadi persoalan tersendiri.
Ia mengatakan pembahasan mengenai kondisi mental masih bisa dianggap tabu di lingkungan pertemanannya. Ketika seseorang mencoba bercerita, respons yang diterima belum tentu serius.
Beberapa komentar bahkan cenderung meremehkan. Denis mencontohkan ucapan seperti “halah halu” atau “laki kok OCD gitu” yang dapat muncul ketika seorang laki-laki membicarakan kondisi mental.
Situasi seperti itu membuat pembicaraan mengenai kesehatan mental tidak selalu mudah dilakukan. Seseorang yang sebenarnya ingin bercerita bisa saja memilih diam karena khawatir tidak akan dipahami.
Denis sendiri tidak melihat bahwa setiap cerita harus langsung dijawab dengan nasihat. Menurutnya, ada kalanya seseorang hanya ingin didengarkan.
“Kalau dari saya cukup dengerin aja sih. Kalau dari merekanya emang mau didengerin, ya udah dengerin aja,” ujarnya.
Bagi Denis, bantuan bisa diberikan ketika memang dibutuhkan atau diminta. Tidak harus selalu ada nasihat setiap kali seseorang menceritakan masalahnya.
Cerita Denis dan Zidan memperlihatkan bagaimana satu istilah dapat dipahami dari pengalaman yang berbeda.
Denis pernah merasa terganggu ketika melihat benda tidak tertata, tetapi ia tidak menganggap dirinya mengalami OCD. Ia masih bisa meninggalkan barang atau kamar dalam keadaan berantakan tanpa merasa harus segera memperbaikinya.
Zidan berada dalam situasi yang berbeda. Ia mengalami kebiasaan mengecek dan merapikan benda secara berulang, sampai pada beberapa kesempatan ikut memengaruhi aktivitasnya. Meski mulai mempertanyakan kemungkinan gejala OCD, ia tetap tidak memberikan diagnosis kepada dirinya sendiri.
Perbedaan tersebut juga menunjukkan bagaimana istilah OCD dapat digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan makna yang lebih sederhana. Ketika kata itu hanya dipakai untuk menyebut seseorang yang menyukai kerapian, pengalaman orang yang sedang berusaha memahami kondisi dirinya bisa menjadi tidak terlihat.
Bagi Denis, setidaknya ada satu hal yang bisa dilakukan ketika seseorang memilih membicarakan persoalan mentalnya: mendengarkan terlebih dahulu.
Sementara Zidan memilih berhenti pada kemungkinan dan tidak buru-buru memastikan apa yang sebenarnya ia alami.
Di antara istilah yang sering terdengar, kebiasaan yang terlihat sederhana, dan komentar dari lingkungan sekitar, pemahaman mengenai kesehatan mental akhirnya tidak hanya soal mengetahui sebuah istilah. Cara seseorang mendengarkan dan merespons cerita orang lain juga ikut menentukan ruang bagi pembicaraan tersebut.
A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.
Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka
+62 851-7213-0182
diantarakudankamudanhati@gmail.com
Malang, East Java, Indonesia
Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA