Menyemai Pulih di Sudut Meja, Ketika Goresan Warna Menjadi Bahasa Jiwa

Goresan karya seni di sudut meja Pinoa Creative Space yang menjadi jembatan pemulihan emosi dan ekspresi diri. (Foto: DIANTARA/Tim Jurnalis)

MALANG —

Di tengah ritme perkuliahan dan tuntutan hidup Kota Malang yang kerap memicu cemas serta tekanan batin, sepenggal ruang teduh hadir menawarkan jeda. Aroma wewangian parfum berpadu dengan guratan cat akrilik dan canting wastra di Pinoa Creative Space, Jalan Soekarno-Hatta.

Dalam gelaran Mini Fest Wastra dan Seni yang berlangsung selama tiga hari dan mencapai puncaknya pada Minggu (20/9), seni tidak lagi diposisikan di atas menara gading yang berjarak. Seni melangkah turun ke meja-meja kafe, bertransformasi menjadi sarana terapi (art therapy), sekaligus ruang aman tempat hati diizinkan berbicara tanpa takut dihakimi.

Ketika Seni Merangkul Luka yang Tak Terucap

Isu tekanan akademik dan beban emosional kian nyata dirasakan kalangan mahasiswa di lingkungan kampus. Hal inilah yang mendasari pihak Pinoa bersama para kolaborator untuk menginisiasi festival tersebut.

“Di Malang ini, khususnya di kalangan mahasiswa, banyak sekali isu seputar tekanan mental hingga kasus bunuh diri. Makanya kami ingin mereka bisa menyalurkan emosi ke dalam karya seni,” ungkap perwakilan tim pemasaran Pinoa, Andrian.

Mengusung konsep creative space, Pinoa menggandeng Mas Santos, Art Director Cell Art Space di bawah naungan manajemen By Pondasi, untuk merancang program berbasis pemulihan diri (art healing).

Santos, seniman lulusan ISI Yogyakarta yang aktif menggerakkan kolaborasi seni di Malang sejak 2023, menegaskan bahwa seni merupakan instrumen katarsis yang paling dekat dengan keseharian masyarakat.

“Kesenian itu harus dipantik. Kuncinya adalah berani bersuara dan bercerita dulu ke lingkaran terdekat. Jangan dipendam sendiri, karena itu yang bikin berat,” jelas Santos.

Ia menambahkan, keterbukaan ruang berekspresi ini ditujukan agar mudah dijangkau publik. “Seni adalah salah satu media terapi paling sederhana sebelum seseorang membutuhkan bantuan profesional ke psikolog atau psikiater,” imbuhnya.

Menemukan Makna Rumah di Atas Botol Aroma

Salah satu agenda yang menyita perhatian pengunjung adalah lokakarya painting on scent dan penulisan jurnal (journaling) yang berkolaborasi dengan jenama kosmetik Wardah. Pada sesi ini, peserta diajak melukis botol wewangian dengan merespons tema sentral: “Rumah”.

Satu per satu peserta tidak sekadar menorehkan warna, melainkan menumpahkan kisah personal, kerinduan, ketakutan, hingga harapan yang selama ini terbungkam di dalam batin.

Bagi mahasiswi Universitas Negeri Malang (UM), Nabila Ramadani, lokakarya tersebut menjadi sarana penting untuk melepaskan penat di akhir pekan.

“Ini jadi ajang stress release buat saya. Rasanya jadi lebih berkesadaran (mindful) untuk menjalani aktivitas dan menghadapi hari Senin besok. Pikiran terasa jauh lebih plong,” tutur Nabila usai menyelesaikan karyanya

Titik Tenang bagi Jiwa yang Lelah

Kehangatan atmosfer seni di sudut kafe ini turut dirasakan para pengunjung umum yang sedang menepi dari rutinitas tugas. Jonathan Oliver Ardianto, mahasiswa Binus University yang berkunjung untuk mencari inspirasi pengerjaan proyek kuliah, mengaku menemukan resonansi emosional yang kuat dengan deretan karya lukis di dinding kafe.

Pandangan Jonathan sempat terpaku cukup lama pada salah satu karya lukisan abstrak.

“Lukisan itu sangat menggambarkan suasana hati saya saat ini. Campur aduk, ada ketenangan tapi juga ada kekacauan,” ungkap Jonathan. “Selain memberi ketenangan, seni ternyata bisa membuat seseorang merasa terhubung kembali dengan lingkungan sekitarnya.”

Merajut Ruang Aman Bersama

Gelaran tiga hari ini tidak sekadar memamerkan lukisan kontemporer dan wastra tradisional batik, melainkan juga merangkul keberagaman masyarakat. Rangkaian acara melibatkan anak-anak penyandang disabilitas dari Yayasan Anak Bangsa pada hari pembukaan, pertunjukan musik etnik, musik keroncong, demonstrasi melukis langsung (live painting), hingga simpul pertemuan komunitas fotografi dan kebugaran (wellness).

Pada akhirnya, seni membuktikan fungsinya bukan semata barang pajangan visual bagi kalangan tertentu, melainkan jembatan empati. Di sudut meja, di antara tetesan cat dan sapuan kuas, selalu tersedia ruang aman untuk memulihkan diri, merajut asa, dan membiarkan hati berbicara apa adanya.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA