Saat Hal Kecil Terus Mengusik Pikiran Zidan

MALANG — Bungkus rokok sudah berada di atas meja. Korek diletakkan di atasnya, tetapi posisinya sedikit miring. Zidan yang melihatnya langsung membenarkan letak korek tersebut agar sejajar dengan bungkus rokok.

Hal seperti itu bisa terjadi begitu saja. Ia tidak perlu berpikir panjang untuk merapikan benda yang menurutnya kurang pas.

Muhammad Hanif Zidan mulai menyadari kebiasaan tersebut sejak duduk di kelas satu SMA. Saat itu, ia beberapa kali melakukan pengecekan ulang terhadap benda-benda di sekitarnya. Mengunci stang motor, misalnya, tidak selalu berhenti setelah sekali dilakukan. Ia bisa kembali memastikan apakah kuncinya benar-benar sudah terkunci.

Hal serupa terjadi ketika mengunci pintu kamar atau memasang kabel pengisi daya ponsel.

“Kalau lebih dari dua kali jarang banget sih, Mas, paling sesekali dua kali gitu,” ujar Zidan.

Kebiasaan yang ikut terbawa ke mana-mana

Bukan hanya soal mengecek. Zidan juga cukup peka terhadap benda yang menurutnya tidak berada pada posisi yang semestinya.

Ketika berada di supermarket dan melihat sebuah barang sedikit bergeser dari tempatnya, misalnya, ia bisa merasa terganggu. Kalau dibiarkan, posisi barang itu kadang masih terlintas dalam pikirannya sampai ia pulang. Ada pula rasa menyesal karena saat itu ia memilih tidak membenarkannya.

Kebiasaan tersebut tidak hanya muncul ketika Zidan sedang sendirian. Saat bersama teman pun, matanya bisa tertuju pada benda yang dianggapnya kurang rapi.

Contohnya, ketika seorang teman meletakkan bungkus rokok dan korek di atas meja dengan posisi sedikit miring. Zidan langsung membenarkan posisi korek tersebut.

“Tanpa mikir dua kali, saya ngelihat kurang rapi, langsung saya rapiin,” katanya.

Bagi Zidan, gerakan itu terasa spontan. Ia tidak merasa perlu meminta orang lain untuk merapikannya karena tangannya sendiri yang langsung bergerak.

Awalnya, Zidan tidak menganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang berkaitan dengan gangguan tertentu. Ia mengira hal itu hanya kebiasaan atau bagian dari keunikan dirinya.

Beberapa menit yang mulai terasa berarti

Pandangan itu perlahan berubah ketika kebiasaan tersebut mulai bersinggungan dengan aktivitas sehari-hari.

Pengecekan ulang terhadap kunci motor atau pintu kamar terkadang membuat Zidan terlambat mengikuti kegiatan. Ia pernah terlambat masuk kelas sekitar tiga sampai empat menit karena kembali memastikan sesuatu.

Waktunya memang tidak lama. Tetapi bagi Zidan, kejadian yang terus berulang membuatnya mulai berpikir lebih jauh.

“Kalau kayak gini terus gimana ke depannya,” ujarnya.

Sejak kuliah di jurusan Psikologi, Zidan juga mulai melihat kebiasaan tersebut dari sudut pandang yang berbeda. Pengetahuan yang ia dapatkan membuatnya mulai bertanya-tanya apakah beberapa perilakunya memiliki kaitan dengan gejala OCD.

Pertanyaan itu tidak serta-merta membuatnya memberikan diagnosis kepada diri sendiri.

Ketika Zidan belum bisa memastikan

Zidan pernah mengatakan kepada seorang temannya, “Kayaknya aku punya gangguan penyakit OCD deh.”

Temannya justru mengingatkan agar ia tidak melakukan diagnosis sendiri karena belum pernah memeriksakan diri kepada psikolog maupun psikiater.

Zidan memahami hal tersebut. Ia pun tidak ingin memastikan bahwa dirinya mengalami OCD hanya berdasarkan perilaku yang ia rasakan.

“Saya tidak bisa bilang diri saya OCD dengan bukti 100%, karena bisa jadi itu cuma kebiasaan saya,” katanya.

Sampai sekarang, Zidan belum pernah menjalani pemeriksaan kepada psikolog atau psikiater. Ia hanya merasa mungkin memiliki sedikit gejala OCD.

Cerita yang berbeda datang dari Denis, mahasiswa semester lima Teknik Sipil. Ia juga pernah merasa risih ketika melihat barang yang tidak tertata.

“Jujur kalau aku ngelihat barang yang nggak tertata juga ngerasa agak risih,” ujar Denis.

Denis tidak selalu merasa perlu langsung membereskan benda yang membuatnya janggal. Ketika kamarnya berantakan, ia masih bisa membiarkannya.

“Aku nggak bisa bilang itu aku kena OCD juga kan,” katanya.

Perbedaan itu membuat pengalaman Zidan tidak bisa begitu saja disamakan dengan rasa risih yang dialami Denis. Bagi Zidan, kebiasaan mengecek dan merapikan sudah menjadi sesuatu yang ia perhatikan lebih serius karena terkadang ikut memengaruhi aktivitasnya.

Sementara itu, Denis melihat rasa tidak nyaman terhadap benda yang berantakan sebagai sesuatu yang pernah ia alami dalam keseharian.

Di antara kebiasaan yang muncul spontan dan pertanyaan mengenai kemungkinan gejala OCD, Zidan masih mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya. Ia belum memiliki jawaban pasti, dan untuk saat ini memilih tidak memberikan label yang belum bisa ia pastikan sendiri.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA