Seni, Ruang Istirahat, dan Realitas Tekanan: Cerita Tentang Menjaga Diri di Tengah Dunia yang Tak Pernah Berhenti

MALANG — Di tengah ritme kehidupan yang semakin cepat dan tuntutan yang terus bertambah, menemukan tempat untuk beristirahat bukan lagi hal yang sederhana. Banyak orang terjebak dalam putaran kesibukan, lupa bahwa jiwa juga butuh jeda untuk bernapas. Dalam sebuah wawancara bersama Erick Febriyanto, mahasiswa Sosiologi Universitas Negeri Malang, kita diajak untuk melihat bagaimana seseorang membangun keseimbangan antara aktivitas dan istirahat, serta bagaimana seni hadir sebagai salah satu cara melepaskan beban yang tak terucap.

Bagi Erick, istirahat bukan sekadar kebutuhan, melainkan prioritas yang sengaja diatur. Ia memiliki jadwal tersendiri kapan harus bekerja dan kapan harus berhenti. Kesadaran ini muncul dari pemahaman bahwa kesehatan adalah fondasi utama untuk bisa terus melangkah maju. Tanpa istirahat yang cukup, segala aktivitas akan kehilangan maknanya. Mengatur waktu istirahat menjadi salah satu cara ia menjaga dirinya tetap utuh di tengah kesibukan kuliah yang tak ringan.

Ketika membahas seni sebagai sarana melepaskan beban perasaan, Erick memandangnya dengan cara yang luas. Baginya, seni bukan sekadar karya yang dilihat, melainkan sesuatu yang dipraktikkan dan dirasakan langsung oleh setiap orang. Semua orang, menurutnya, memiliki kemampuan dan ketertarikan tersendiri terhadap seni entah itu melalui goresan lukisan, gambar, atau sekadar menikmati keindahan pemandangan di sekitar kita.

Erick sendiri menemukan ketenangan dalam kegiatan sederhana: melukis, menggambar, dan menikmati keindahan alam di sekitarnya. Baginya, seni tidak harus selalu rumit. Pemandangan yang indah yang tertangkap oleh mata pun sudah merupakan sebuah seni. Melalui hal-hal ini, ia mengekspresikan apa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata, membiarkan perasaan mengalir bebas tanpa harus terikat aturan.

Namun di balik itu semua, Erick juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam mengenai kondisi kesehatan mental saat ini. Ia melihat bahwa tingkat stres di masyarakat semakin hari semakin tinggi. Bukan tanpa alasan tekanan hidup datang dari berbagai arah, mulai dari tingginya angka pengangguran hingga maraknya perjudian daring yang perlahan menghancurkan kesejahteraan banyak keluarga.

Bagi kalangan mahasiswa seperti dirinya, tekanan pun tak kalah berat. Tumpukan tugas, tekanan menyelesaikan skripsi yang tak kunjung usai, tantangan akademik, hingga beban ekspektasi keluarga untuk segera lulus dan mandiri semua itu menjadi beban yang menumpuk di pundak. Tak heran jika kesehatan mental begitu mudahnya terganggu, dan stres menjadi hal yang hampir lumrah dialami banyak orang.

Erick menegaskan bahwa masalah stres ini tidak boleh dianggap remeh. Ia melihat bagaimana tekanan yang berlebih berujung pada hal-hal yang menyedihkan mulai dari perpecahan rumah tangga hingga kehilangan nyawa akibat keputusasaan. Inilah yang membuatnya merasa penting untuk terus memahami lebih dalam tentang kesehatan mental dan bagaimana terapi seni dapat membantu meringankan beban yang dirasakan banyak orang.

 

 

Kisah dan pandangan Erick mengingatkan kita: menjaga diri bukanlah keegoisan, melainkan kebutuhan yang mendasar. Seni, dalam bentuk apa pun, bisa menjadi teman yang setia saat beban terasa terlalu berat. Dan di tengah dunia yang terus berjalan tanpa henti, kita semua berhak untuk berhenti sejenak, bernapas, dan merawat diri kita sendiri.

Diantara

A small, independent journal about art therapy, mental health, and the quiet work of being human.

About

Media ini adalah media yang memberi pengetahuan seputar mental health atau Disorder yang jarang diketahui orang-orang terutama kalangan mahasiswa. Media ini juga menjadi rumah bagi mereka yang memiliki disorder tertentu dan menghubungkan mereka ke para ahli yang di inginkan dengan feedback sebuah gambar dari cerita mereka

Contact

+62 851-7213-0182

diantarakudankamudanhati@gmail.com

Malang, East Java, Indonesia

Copyright © 2025 All Right Reserved KONSTA